Sebagian Benar

Penilaian: 6.0/10

Coalition
C0560

Klaim

“Memberikan kekebalan yang lebih besar kepada staf pusat penahanan imigrasi terhadap konsekuensi atas penggunaan kekerasan yang tidak pantas. Mereka kini memiliki kekebalan yang lebih besar daripada petugas polisi.”
Sumber Asli: Matthew Davis
Dianalisis: 30 Jan 2026

Sumber Asli

VERIFIKASI FAKTA

### Verifikasi Klaim Inti
### Core Claim Verification
Klaim ini mengacu pada **Migration Amendment (Maintaining the Good Order of Immigration Detention Facilities) Bill 2015** (RUU 2015), yang diperkenalkan oleh Menteri Imigrasi Peter Dutton pada 25 Februari 2015 [1][2]. **Elemen faktis utama:** **RUU tersebut nyata dan disahkan:** RUU tersebut diperkenalkan ke Parlemen dan akhirnya disahkan, mengubah Migration Act 1958 untuk memberikan kerangka kerja penggunaan kekerasan oleh petugas yang berwenang di fasilitas penahanan imigrasi [1][2]. **Ketentuan penggunaan kekerasan:** RUU tersebut memberikan wewenang kepada "petugas yang berwenang" (terutama kontraktor swasta dari Serco Australia Pty Ltd) untuk menggunakan "kekerasan yang wajar" dalam keadaan tertentu [3][4].
The claim refers to the **Migration Amendment (Maintaining the Good Order of Immigration Detention Facilities) Bill 2015**, introduced by Immigration Minister Peter Dutton on 25 February 2015 [1][2]. **Key factual elements:** **The Bill was real and passed:** The legislation was introduced into Parliament and ultimately passed, amending the Migration Act 1958 to provide a framework for use of force by authorised officers in immigration detention facilities [1][2]. **Use of force provisions:** The Bill authorised "authorised officers" (primarily private contractors from Serco Australia Pty Ltd) to use "reasonable force" in specified circumstances [3][4].
Tujuan penggunaan kekerasan meluas dari sekadar melindungi nyawa dan keselamatan hingga mencakup pemeliharaan "ketertiban, kedamaian, dan keamanan" fasilitas penahanan [5]. **Ketentuan kekebalan:** RUU tersebut menyatakan bahwa petugas yang berwenang tidak akan dikenai tanggung jawab perdata atau pidana atas penggunaan kekerasan yang dilakukan dengan itikad baik dan sesuai dengan perundang-undangan [3][6]. **Perbandingan dengan kekebalan polisi:** Klaim bahwa staf penahanan memiliki "kekebalan yang lebih besar daripada petugas polisi" memerlukan analisis yang nuansa.
The purposes for use of force extended beyond protecting life and safety to include maintaining "good order, peace and security" of detention facilities [5]. **Immunity provisions:** The Bill provided that authorised officers would not be subject to civil or criminal liability for use of force exercised in good faith and in accordance with the legislation [3][6]. **Comparison to police immunity:** The claim that detention staff have "greater immunity than police officers" requires nuanced analysis.
Petugas polisi Australia pada umumnya memiliki kekebalan dari tanggung jawab pidana atas kekerasan yang wajar digunakan dalam menjalankan tugas mereka di bawah berbagai undang-undang negara bagian dan federal [7][8].
Australian police officers generally have immunity from criminal liability for reasonable force used in the course of their duties under various state and federal laws [7][8].
Namun, polisi dikenai mekanisme pengawasan yang ekstensif termasuk: - Lembaga pengawasan polisi independen (misalnya, Law Enforcement Conduct Commission di NSW, Independent Broad-based Anti-corruption Commission di Victoria) - Tuntutan pidana atas kekerasan berlebihan (meskipun ada ketentuan kekebalan, tuntutan masih dapat diajukan) - Prosedur disipliner - Inkues koroner untuk kematian dalam tahanan Kritik terhadap RUU 2015 berfokus pada pemberian kekebalan serupa kepada kontraktor swasta (bukan petugas penegak hukum yang disumpah) tanpa mekanisme pengawasan yang setara [3][6].
However, police are subject to extensive oversight mechanisms including: - Independent police oversight bodies (e.g., Law Enforcement Conduct Commission in NSW, Independent Broad-based Anti-corruption Commission in Victoria) - Criminal charges for excessive force (despite immunity provisions, charges can still be laid) - Disciplinary procedures - Coronial inquests for deaths in custody The 2015 Bill's criticism centred on giving private contractors (not sworn law enforcement officers) similar immunities without equivalent oversight mechanisms [3][6].
### Apa yang Sebenarnya Dilakukan RUU Tersebut
### What the Bill Actually Did
Perundang-undangan tersebut memungkinkan penggunaan kekerasan untuk: 1.
The legislation provided that force could be used for: 1.
Melindungi nyawa, kesehatan, atau keselamatan setiap orang 2.
Protecting life, health or safety of any person 2.
Memelihara "ketertiban, kedamaian, dan keamanan" fasilitas [5] Para kritikus menyoroti bahwa redaksi "ketertiban, kedamaian, dan keamanan" lebih luas daripada wewenang polisi, yang biasanya terikat pada tugas-tugas hukum yang spesifik daripada pemeliharaan ketertiban umum secara umum [3][6].
Maintaining the "good order, peace or security" of the facility [5] Critics noted the "good order, peace or security" formulation was broader than police powers, which are typically tied to specific lawful duties rather than general order maintenance [3][6].

Konteks yang Hilang

### Tujuan yang Dinyatakan dalam RUU
### The Bill's Stated Purpose
Pemerintah memperkenalkan RUU tersebut setelah insiden di fasilitas penahanan di mana penyedia layanan mengungkapkan ketidakpastian tentang wewenang hukum mereka untuk menanggapi gangguan [2].
The government introduced the Bill following incidents at detention facilities where service providers expressed uncertainty about their legal authority to respond to disturbances [2].
Menteri Dutton menyatakan bahwa amandemen tersebut diperlukan untuk memberikan "alat yang mereka butuhkan kepada mereka yang bekerja di fasilitas penahanan kita untuk melindungi nyawa, kesehatan, atau keselamatan setiap orang, dan untuk memelihara ketertiban, kedamaian, dan keamanan dalam fasilitas imigrasi" [9].
Minister Dutton stated the amendments were needed to provide "those working in our detention facilities with the tools they need to protect the life, health or safety of any person, and to maintain the good order, peace or security within an immigration facility" [9].
### Pengamanan dalam Perundang-undangan
### Legislative Safeguards Included
RUU tersebut bukan cek kosong untuk kekerasan.
The Bill was not a blank cheque for violence.
RUU tersebut mencakup: 1. **Persyaratan itikad baik:** Kekebalan hanya berlaku jika kekerasan digunakan "dengan itikad baik" [3] 2. **Persyaratan kewajaran:** Hanya "kekerasan yang wajar" yang diwenangkan [1][2] 3. **Mekanisme pengaduan:** RUU tersebut menetapkan mekanisme pengaduan terkait pelaksanaan wewenang untuk menggunakan kekerasan yang wajar [1] 4. **Batasan penggunaan kekerasan:** Keadaan spesifik di mana kekerasan tidak dapat digunakan (misalnya, ketika seseorang mematuhi instruksi) [3]
It included: 1. **Good faith requirement:** Force had to be used "in good faith" to gain immunity [3] 2. **Reasonableness requirement:** Only "reasonable force" was authorised [1][2] 3. **Complaints mechanism:** The Bill established a complaints mechanism relating to the exercise of power to use reasonable force [1] 4. **Limitations on force:** Specific circumstances where force could not be used (e.g., where a person was complying with directions) [3]
### Proses Komite Senat
### Senate Committee Process
RUU tersebut dirujuk ke Senate Legal and Constitutional Affairs Legislation Committee, yang melakukan penyelidikan dan membuat rekomendasi [5][10].
The Bill was referred to the Senate Legal and Constitutional Affairs Legislation Committee, which conducted an inquiry and made recommendations [5][10].
Komite mengakui "isu nyata dan mendesak yang dihadapi penyedia layanan" namun menyoroti kekhawatiran tentang keluasan wewenang [5].
The committee acknowledged "real and pressing issues facing service providers" but noted concerns about the breadth of powers [5].
### Perkembangan Pasca-2015
### Post-2015 Developments
Klaim tersebut menyiratkan ini adalah masalah yang sudah pasti memberikan wewenang luar biasa secara permanen.
The claim implies this was a settled issue granting permanent extraordinary powers.
Namun: 1. **Pengawasan berkelanjutan:** Australian Human Rights Commission terus memantau penggunaan kekerasan di fasilitas penahanan [4] 2. **Pelaporan insiden:** Laporan kekerasan berlebihan oleh staf penahanan terus bermunculan, menunjukkan bahwa kekebalan tidak sepenuhnya mencegah akuntabilitas [11] 3. **Amandemen selanjutnya:** Migration (Prohibiting Items in Immigration Detention Facilities) Bill 2017 berupaya memberikan wewenang tambahan, menunjukkan bahwa ini adalah bagian dari evolusi legislatif yang berkelanjutan, bukan pemberian kekebalan satu kali [12]
However: 1. **Ongoing scrutiny:** The Australian Human Rights Commission continued monitoring use of force in detention facilities [4] 2. **Incident reporting:** Reports of excessive force by detention staff continued to emerge, suggesting the immunity did not prevent accountability entirely [11] 3. **Further amendments:** The 2017 Migration (Prohibiting Items in Immigration Detention Facilities) Bill sought additional powers, showing this was part of an ongoing legislative evolution, not a one-off immunity grant [12]

Penilaian Kredibilitas Sumber

### The Guardian Australia (Sumber Asli)
### The Guardian Australia (Original Source)
**Kredibilitas:** The Guardian adalah organisasi berita internasional arus utama dengan pelaporan yang umumnya dapat diandalkan.
**Credibility:** The Guardian is a mainstream international news organization with generally reliable reporting.
Biro Australia mereka beroperasi di bawah standar jurnalistik standar. **Pertimbangan potensi bias:** - The Guardian memiliki sikap editorial yang umumnya progresif dan telah mengkritik kebijakan penahanan imigrasi Australia - Pembingkaian artikel April 2015 menekankan aspek "kekebalan" tanpa mengontekstualisasi sepenuhnya pengamanan (persyaratan itikad baik, persyaratan kewajaran, mekanisme pengaduan) - Judul "government seeks immunity over use of force" secara teknis akurat tetapi menekankan aspek yang kontroversial **Penilaian:** Sumber ini secara faktual dapat diandalkan tetapi menyajikan cerita dengan penekanan pada kekhawatiran hak sipil daripada rasional keamanan dan ketertiban pemerintah.
Its Australian bureau operates under standard journalistic standards. **Potential bias considerations:** - The Guardian has generally progressive editorial stance and has been critical of Australian immigration detention policies - The April 2015 article framing emphasized the "immunity" aspect without fully contextualizing the safeguards (good faith requirement, reasonableness requirement, complaints mechanism) - The headline "government seeks immunity over use of force" is technically accurate but emphasizes the controversial aspect **Assessment:** The source is factually reliable but presents the story with emphasis on civil liberties concerns rather than the government's security and order rationale.
### Kredibilitas Sumber Tambahan
### Additional Source Reliability
- **Australian Parliament (aph.gov.au):** Catatan legislatif resmi - sangat dapat diandalkan [1][2][5] - **Australian Human Rights Commission:** Lembaga independen berdasarkan undang-undang - dapat diandalkan namun berorientasi pada advokasi perlindungan hak asasi manusia [3][4] - **UNSW Law Journal / AustLII:** Sumber hukum akademik - sangat dapat diandalkan [6][7]
- **Australian Parliament (aph.gov.au):** Official legislative records - highly reliable [1][2][5] - **Australian Human Rights Commission:** Independent statutory body - reliable but advocacy-oriented toward human rights protection [3][4] - **UNSW Law Journal / AustLII:** Academic legal sources - highly reliable [6][7]
⚖️

Perbandingan Labor

**Apakah Labor melakukan hal serupa?**
**Did Labor do something similar?**
### Labor Membuat Sistem Penahanan Wajib
### Labor Created the Mandatory Detention System
**Konteks kritis:** Seluruh kerangka kerja penahanan imigrasi di mana RUU ini beroperasi dibuat oleh pemerintah Labor.
**Critical context:** The entire framework of immigration detention within which this Bill operated was created by a Labor government.
Penahanan wajib ditetapkan oleh **Pemerintahan Labor Keating pada 1992** melalui Migration Amendment Act 1992 [13][14][15].
Mandatory detention was established by the **Keating Labor Government in 1992** through the Migration Amendment Act 1992 [13][14][15].
Ketika memperkenalkan penahanan wajib, Menteri Imigrasi Labor Gerry Hand menyatakan: "Aspek paling penting dari perundang-undangan ini adalah bahwa pengadilan tidak dapat campur tangan dengan periode penahanan" [14].
When introducing mandatory detention, Labor's Immigration Minister Gerry Hand stated: "The most important aspect of this legislation is that it provides that a court cannot interfere with the period of custody" [14].
### Ekspansi Wewenang Penahanan oleh Labor
### Labor's Expansion of Detention Powers
**Amandemen Labor 1994:** Pemerintahan Keating lebih lanjut memperkuat penahanan wajib pada 1994, menghapus batas waktu dan memperkuat penahanan tanpa batas [15]. **Penahanan lepas pantai oleh Labor:** Pemerintahan Labor Rudd dan Gillard (2007-2013) memelihara dan memperluas wewenang penahanan: - Pada Agustus 2012, Perdana Menteri Julia Gillard membuka kembali pemrosesan lepas pantai di Pulau Manus dan Nauru [16] - Labor memelihara rezim penahanan wajib selama masa pemerintahan mereka - Labor menggunakan kontraktor swasta yang sama (Serco) untuk mengelola fasilitas penahanan
**Labor's 1994 amendments:** The Keating government further strengthened mandatory detention in 1994, removing time limits and reinforcing indefinite detention [15]. **Labor's offshore detention:** The Rudd and Gillard Labor governments (2007-2013) maintained and expanded detention powers: - In August 2012, Prime Minister Julia Gillard reopened offshore processing on Manus Island and Nauru [16] - Labor maintained the mandatory detention regime throughout their government - Labor used the same private contractors (Serco) to manage detention facilities
### Preseden Penggunaan Kekerasan oleh Labor
### Labor's Use of Force Precedents
Meskipun Labor tidak mengesahkan perundang-undangan identik yang secara spesifik mengodekan penggunaan kekerasan oleh staf penahanan, mereka: 1.
While Labor did not pass identical legislation specifically codifying use of force by detention staff, they: 1.
Memelihara sistem penahanan di mana kekerasan secara rutin digunakan 2.
Maintained the detention system where force was regularly used 2.
Mengawasi insiden di fasilitas penahanan tanpa kejelasan legislatif untuk staf 3.
Oversaw incidents at detention facilities without legislative clarity for staff 3.
Menggunakan kontraktor swasta dengan wewenang serupa (hanya saja tanpa kekebalan hukum yang eksplisit)
Used private contractors with similar powers (just without explicit statutory immunity)
### Perbedaan Utama
### Key Distinction
RUU Koalisi 2015 adalah inovatif dalam secara eksplisit mengodekan wewenang penggunaan kekerasan dan kekebalan dalam perundang-undangan.
The Coalition's 2015 Bill was novel in explicitly codifying use of force powers and immunities in legislation.
Labor telah meninggalkan wewenang ini di area abu-abu hukum umum dan kontrak.
Labor had left these powers in a grey area of common law and contract.
Pendekatan Koalisi lebih transparan tetapi juga lebih eksplisit permisif.
The Coalition's approach was more transparent but also more explicitly permissive.
🌐

Perspektif Seimbang

### Pembenaran Pemerintahan Koalisi
### Coalition Government Justification
Pemerintah berargumen bahwa RUU tersebut diperlukan karena: 1. **Realitas operasional:** Fasilitas penahanan telah mengalami gangguan di mana staf tidak yakin tentang wewenang hukum mereka untuk bertindak [2][9] 2. **Perlindungan staf:** Tanpa kejelasan hukum, kontraktor swasta menghadapi risiko hukum pribadi untuk menjalankan tugas keamanan yang diperlukan 3. **Kesetaraan dengan yurisdiksi lain:** Polisi dan petugas penjara sudah memiliki kekebalan serupa untuk kekerasan yang wajar [7] 4. **Pengamanan itikad baik:** Kekebalan hanya berlaku untuk tindakan yang dilakukan dengan itikad baik dengan kekerasan yang wajar [3]
The government argued the Bill was necessary because: 1. **Operational reality:** Detention facilities had experienced disturbances where staff were uncertain about their legal authority to intervene [2][9] 2. **Staff protection:** Without legal clarity, private contractors faced personal legal risk for performing necessary security duties 3. **Parity with other jurisdictions:** Police and corrections officers already had similar immunities for reasonable force [7] 4. **Good faith safeguards:** The immunity only applied to actions taken in good faith with reasonable force [3]
### Perspektif Kritis
### Critical Perspective
Para kritikus mengangkat kekhawatiran yang sah: 1. **Kontraktor swasta vs petugas yang disumpah:** Berbeda dengan polisi, staf Serco adalah kontraktor keamanan swasta tanpa pelatihan, pengawasan, atau struktur akuntabilitas yang setara [3][6] 2. **Tujuan yang luas:** Bahasa "ketertiban, kedamaian, dan keamanan" lebih luas daripada wewenang polisi yang khas dan dapat memungkinkan kekerasan untuk masalah kepatuhan kecil [5][6] 3. **Celah akuntabilitas:** Mekanisme pengaduan bersifat administratif daripada pengawasan independen berdasarkan undang-undang seperti badan pengawasan polisi [6] 4. **Transparansi:** Fasilitas penahanan sudah memiliki pengawasan publik yang terbatas; ketentuan kekebalan mengurangi akuntabilitas lebih lanjut [3]
Critics raised legitimate concerns: 1. **Private contractors vs sworn officers:** Unlike police, Serco staff are private security contractors without equivalent training, oversight, or accountability structures [3][6] 2. **Broad purposes:** The "good order, peace and security" language was broader than typical police powers and could enable force for minor compliance issues [5][6] 3. **Accountability gap:** The complaints mechanism was administrative rather than independent statutory oversight like police oversight bodies [6] 4. **Transparency:** Detention facilities already had limited public scrutiny; immunity provisions reduced accountability further [3]
### Konteks Komparatif: Apakah Ini Normal?
### Comparative Context: Is This Normal?
Kebanyakan yurisdiksi Australia memberikan beberapa bentuk kekebalan kepada penegak hukum untuk kekerasan yang wajar yang digunakan dalam tugas [7][8].
Most Australian jurisdictions grant some form of immunity to law enforcement for reasonable force used in duties [7][8].
Aspek yang tidak biasa dari RUU 2015 adalah: - Memberluas perlindungan ini kepada kontraktor swasta daripada petugas yang disumpah - Keluasan tujuan yang diizinkan ("ketertiban" vs tugas hukum yang spesifik) - Pengurangan pengawasan dibandingkan dengan polisi
The unusual aspects of the 2015 Bill were: - Extending these protections to private contractors rather than sworn officers - The breadth of permissible purposes ("good order" vs specific lawful duties) - The reduced oversight compared to police
### Konteks Sistemik
### Systemic Context
RUU 2015 harus dipahami dalam konteks komitmen bipartisan Australia yang lebih luas terhadap penahanan wajib: - **Labor membuat sistem pada 1992** [13][14] - **Koalisi memelihara dan memperkuatnya** (RUU 2015) - **Kedua partai menggunakan kontraktor swasta** untuk mengoperasikan fasilitas - **Kedua partai menghadapi kritik** atas kondisi dan penggunaan kekerasan dalam penahanan Klaim tersebut menunjukkan ini adalah kelebihan Koalisi yang unik, tetapi kenyataannya adalah bahwa kedua partai besar telah secara progresif membangun kerangka kerja penegakan penahanan Australia selama tiga dekade.
The 2015 Bill must be understood within Australia's broader bipartisan commitment to mandatory detention: - **Labor created the system in 1992** [13][14] - **Coalition maintained and strengthened it** (2015 Bill) - **Both parties used private contractors** to operate facilities - **Both parties faced criticism** for conditions and use of force in detention The claim suggests this was a unique Coalition excess, but the reality is that both major parties have progressively built Australia's detention enforcement framework over three decades.

SEBAGIAN BENAR

6.0

/ 10

Klaim ini mengandung elemen yang akurat tetapi menyesatkan dalam cara-cara penting: **Apa yang benar:** - Koalisi memang mengesahkan perundang-undangan pada 2015 yang memberikan kekebalan berdasarkan undang-undang kepada staf pusat penahanan atas penggunaan kekerasan - Wewenang tersebut lebih luas daripada wewenang polisi yang khas dalam beberapa hal (bahasa "ketertiban, kedamaian, dan keamanan") - Kekebalan berlaku untuk kontraktor swasta (Serco), bukan hanya petugas yang disumpah - Para kritikus, termasuk Australian Human Rights Commission, berpendapat bahwa ini menciptakan akuntabilitas yang lebih rendah daripada yang dihadapi polisi **Apa yang menyesatkan:** - Klaim tersebut menghilangkan fakta bahwa Labor membuat sistem penahanan wajib pada 1992 yang menjadikan wewenang ini diperlukan - Klaim tersebut tidak menyebutkan pengamanan dalam RUU (persyaratan itikad baik, persyaratan kewajaran, mekanisme pengaduan) - Klaim "kekebalan yang lebih besar daripada polisi" dapat diperdebatkan - polisi memiliki kekebalan serupa tetapi dengan lebih banyak mekanisme pengawasan - Klaim tersebut menyajikan ini sebagai tindakan unik Koalisi padahal ini adalah bagian dari pengembangan bipartisan wewenang penahanan yang berkelanjutan **Pembingkaian yang lebih adil akan menjadi:** "Koalisi mengesahkan perundang-undangan pada 2015 yang secara eksplisit mengodekan wewenang penggunaan kekerasan dan kekebalan untuk kontraktor penahanan swasta.
The claim contains accurate elements but is misleading in important ways: **What is true:** - The Coalition did pass legislation in 2015 granting statutory immunity to detention centre staff for use of force - The powers were broader than typical police powers in some respects ("good order, peace or security" language) - The immunity applied to private contractors (Serco), not just sworn officers - Critics, including the Australian Human Rights Commission, argued this created less accountability than police face **What is misleading:** - The claim omits that Labor created the mandatory detention system in 1992 that made these powers necessary - The claim doesn't mention the safeguards in the Bill (good faith requirement, reasonableness requirement, complaints mechanism) - The "greater immunity than police" claim is arguable - police have similar immunities but with more oversight mechanisms - The claim presents this as a unique Coalition action when it was part of ongoing bipartisan development of detention powers **A fairer framing would be:** "The Coalition passed legislation in 2015 explicitly codifying use of force powers and immunities for private detention contractors.
Meskipun polisi memiliki kekebalan serupa, para kritikus berpendapat bahwa mekanisme pengawasan lebih lemah untuk staf penahanan.
While police have similar immunities, critics argued the oversight mechanisms were weaker for detention staff.
Perundang-undangan ini dibangun di atas kerangka kerja penahanan wajib yang Labor tetapkan pada 1992."
This legislation built upon the mandatory detention framework that Labor established in 1992."

📚 SUMBER DAN KUTIPAN (16)

  1. 1
    Migration Amendment (Maintaining the Good Order of Immigration Detention Facilities) Bill 2015

    Migration Amendment (Maintaining the Good Order of Immigration Detention Facilities) Bill 2015

    Helpful information Text of bill First reading: Text of the bill as introduced into the Parliament Third reading: Prepared if the bill is amended by the house in which it was introduced. This version of the bill is then considered by the second house. As passed by

    Aph Gov
  2. 2
    openaustralia.org.au

    Parliamentary Debates - Second Reading Speech

    Making parliament easy.

    Openaustralia Org
  3. 3
    PDF

    Factsheet on use of force in immigration detention facilities

    Humanrights Gov • PDF Document
  4. 4
    humanrights.gov.au

    Use of force in immigration detention facilities

    Humanrights Gov

  5. 5
    Report - Migration Amendment (Maintaining the Good Order of Immigration Detention Facilities) Bill 2015

    Report - Migration Amendment (Maintaining the Good Order of Immigration Detention Facilities) Bill 2015

    Migration Amendment (Maintaining the Good Order of Immigration Detention Facilities) Bill 2015 [Provisions] 5 June 2015 © Commonwealth of Australia 2015 ISBN 978-1-76010-206-7 View the report as a single document - (PDF 991KB) View the report as separate downloadable part

    Aph Gov
  6. 6
    classic.austlii.edu.au

    You Can't Charge Me, I'm a Cop: Should Police, Corrections Staff and Immigration Detention Staff Have Immunity from Criminal Liability?

    Classic Austlii Edu

  7. 7
    Police Use of Force: 5 Key Legal Principles in Australia

    Police Use of Force: 5 Key Legal Principles in Australia

    Understand What Is Reasonable Force Police AU with 5 key legal principles guiding law enforcement's use of force in Australia. Learn more.

    Legal Guides
  8. 8
    Law on police use of force in Australia

    Law on police use of force in Australia

    Australia‘s federal rules on police use of force generally comply with international standards although an amended law in New South Wales allows use of firearms against suspected terrorists even where no imminent threat is perceived.

    The Law on Police Use of Force
  9. 9
    aph.gov.au

    Migration Amendment Bill - Second Reading

    Aph Gov

    Original link unavailable — view archived version
  10. 10
    PDF

    Committee Report - Chapter 2: Use of Force Provisions

    Aph Gov • PDF Document
  11. 11
    Damning new report highlights excessive use of force by immigration detention staff

    Damning new report highlights excessive use of force by immigration detention staff

    Private security contractors have used excessive force against people in Australian immigration detention centres, a damning new report by the independent detention monitoring body has found.

    Human Rights Law Centre
  12. 12
    Labor Party Senators' Dissenting Report - Migration (Prohibiting Items in Immigration Detention Facilities) Bill 2017

    Labor Party Senators' Dissenting Report - Migration (Prohibiting Items in Immigration Detention Facilities) Bill 2017

    1.1        The Australian Labor Party (Labor Party) dissents from the majority report of the Legal and Constitutional Affairs Legislation Committee (the committee) inquiry into the provisions of the Migration Amendment (Prohibiting Items in Imm

    Aph Gov
  13. 13
    Chapter 5 - Mandatory detention policy

    Chapter 5 - Mandatory detention policy

    Chapter 5 - Mandatory detention policy Introduction 5.1       This chapter discusses the background to Australia's mandatory detention policy and whether it can continue to be justified as a proportionate and rational measure necessary to ensure

    Mandatory detention policy
  14. 14
    Mandatory detention: A history of bipartisan cruelty

    Mandatory detention: A history of bipartisan cruelty

    How did Australia go from a place where its migrant hostels fostered some of the world’s most famous bands to one where the detentions centres it presides over are described as “hell on Earth”? Zebedee Parkes takes a look at the history of mandatory detention and the struggle against it.

    Green Left
  15. 15
    Immigration detention in Australia

    Immigration detention in Australia

    Wikipedia
  16. 16
    A history of Australia's offshore detention policy

    A history of Australia's offshore detention policy

    Asylum seekers, immigration and border protection look set to define Australia's next election.

    SBS News

Metodologi Skala Penilaian

1-3: SALAH

Secara faktual salah atau fabrikasi jahat.

4-6: SEBAGIAN

Ada kebenaran tetapi konteks hilang atau menyimpang.

7-9: SEBAGIAN BESAR BENAR

Masalah teknis kecil atau masalah redaksi.

10: AKURAT

Terverifikasi sempurna dan adil secara kontekstual.

Metodologi: Penilaian ditentukan melalui referensi silang catatan pemerintah resmi, organisasi pemeriksa fakta independen, dan dokumen sumber primer.