**Verifikasi catatan pemungutan suara:** Menurut catatan pemungutan suara parlemen dari They Vote For You (proyek independen oleh OpenAustralia Foundation), partai Koalisi (Partai Liberal, Partai Nasional, Partai Liberal Nasional, dan Partai Liberal Nasional Wilayah Utara) memilih untuk menolak RUU Pengubahan Administrasi Perpajakan (Informasi Entitas Pajak Perusahaan) 2017 di Senat pada tanggal 25 Juni 2018 [1][2]. **Rincian pemungutan suara spesifik:** - **Partai Liberal:** 19 senator memilih Tidak, 0 memilih Ya (83% kehadiran) [2] - **Partai Nasional:** 2 senator memilih Tidak, 0 memilih Ya (67% kehadiran) [2] - **Partai Liberal Nasional (Queensland):** 1 senator memilih Tidak, 0 memilih Ya (50% kehadiran) [2] - **Partai Liberal Nasional Wilayah Utara (NT):** 1 senator memilih Tidak [2] **Legislasi tersebut:** Rancangan undang-undang ini bertujuan untuk mengubah Undang-Undang Administrasi Perpajakan 1953 agar mengharuskan Komisaris Perpajakan untuk merilis data perpajakan secara publik untuk perusahaan swasta besar dengan omzet 100 juta dolar Australia atau lebih [2][3].
**Verification of the voting record:** According to parliamentary voting records from They Vote For You (an independent project by OpenAustralia Foundation), the Coalition parties (Liberal Party, National Party, Liberal National Party, and Country Liberal Party) voted against the Taxation Administration Amendment (Corporate Tax Entity Information) Bill 2017 in the Senate on June 25, 2018 [1][2].
**Specific voting breakdown:**
- **Liberal Party:** 19 senators voted No, 0 voted Yes (83% turnout) [2]
- **National Party:** 2 senators voted No, 0 voted Yes (67% turnout) [2]
- **Liberal National Party (Queensland):** 1 senator voted No, 0 voted Yes (50% turnout) [2]
- **Country Liberal Party (NT):** 1 senator voted No [2]
**The legislation:** The bill sought to amend the Taxation Administration Act 1953 to require the Commissioner of Taxation to publicly release tax data for large private firms with turnover of $100 million or over [2][3].
Ini dimaksudkan untuk membawa sekitar 600 perusahaan swasta besar ke dalam rezim transparansi perpajakan yang sebelumnya dikecualikan oleh amandemen yang dilakukan pada tahun 2015. **Hasilnya:** Terlepas dari penolakan Koalisi, RUU tersebut lolos di Senat dengan suara 37-28 pada tanggal 25 Juni 2018, dengan dukungan dari Partai Buruh, Partai Hijau, Centre Alliance, dan senator independen [2].
This was intended to bring approximately 600 large private companies into the tax transparency regime that had been excluded by amendments made in 2015.
**The outcome:** Despite Coalition opposition, the bill passed the Senate 37-28 on June 25, 2018, with support from Labor, Greens, Centre Alliance, and crossbench senators [2].
Konteks yang Hilang
**Konteks historis legislasi Partai Buruh 2013:** Klaim ini menghilangkan bahwa Partai Buruh awalnya memperkenalkan undang-undang transparansi perpajakan pada tahun 2013 (RUU Pengubahan Undang-Undang Perpajakan (Ukuran 2013 No. 2)) yang mengharuskan ATO untuk menerbitkan informasi perpajakan untuk semua perusahaan besar (dengan batas awal 100 juta dolar Australia) [2][3].
**Historical context of the 2013 Labor legislation:** The claim omits that Labor originally introduced tax transparency laws in 2013 (Tax Laws Amendment (2013 Measures No. 2) Bill 2013) that required the ATO to publish tax information for all large companies with turnover of $100 million or more [2][3].
Legislasi asli ini lolos dengan dukungan bipartisan atau setidaknya tanpa oposisi tercatat. **Amandemen Koalisi 2015:** Pada tahun 2015, pemerintah Koalisi loloskan amandemen (RUU Pengubahan Undang-Undang Perpajakan dan Undang-Undang Superannuation (Penargetan Lebih Baik Undang-Undang Transparansi Pajak Penghasilan) 2015) yang menghapus persyaratan pengungkapan untuk perusahaan swasta, menaikkan ambang batas menjadi 200 juta dolar Australia dan secara efektif mengkecualikan sekitar 600 perusahaan swasta besar dari persyaratan transparansi [3][4].
This original legislation passed with bipartisan support or at least without recorded division opposition.
**The 2015 Coalition amendments:** In 2015, the Coalition government passed amendments (Tax and Superannuation Laws Amendment (Better Targeting the Income Tax Transparency Laws) Act 2015) that removed the disclosure requirement for private companies, raising the threshold to $200 million and effectively exempting approximately 600 large private companies from transparency requirements [3][4].
Dasar yang dinyatakan Koalisi adalah untuk "menyeimbangkan kebutuhan akan transparansi publik yang lebih besar dalam urusan perpajakan perusahaan besar sambil tidak membahayakan privasi dan daya saing perusahaan swasta milik Australia" [4]. **RUU 2018 bersifat restoratif:** RUU 2018 yang ditolak Koalisi bukan memperkenalkan persyaratan transparansi "baru" melainkan mengembalikan legislasi Partai Buruh 2013 asli yang telah diamandemen pada tahun 2015.
The Coalition's stated rationale was to "balance the need for greater public transparency in the tax affairs of large companies while not jeopardising the privacy and competitiveness of Australian owned private companies" [4].
**The 2018 bill was restorative:** The 2018 bill that the Coalition voted against was not introducing "new" transparency requirements but rather restoring the original 2013 Labor legislation that had been amended in 2015.
Seperti yang dinyatakan Senator Partai Buruh Doug Cameron di Senat: "RUU ini mengatasi kekurangan yang menonjol dalam rezim transparansi perpajakan yang muncul setelah amandemen dilakukan pada tahun 2015" [2]. **Amandemen Partai Hijau ditolak:** Partai Hijau memilih untuk mendukung RUU tersebut tetapi juga memperkenalkan amandemen untuk menurunkan ambang batas pengungkapan lebih jauh dari 100 juta menjadi 50 juta dolar Australia, yang akan mencakup lebih banyak perusahaan [1].
As Labor Senator Doug Cameron stated in the Senate: "This bill addresses a prominent deficiency in the tax transparency regime that arose after amendments were made in 2015" [2].
**Greens amendments rejected:** The Greens voted for the bill but also introduced amendments to lower the disclosure threshold even further from $100 million to $50 million, which would have captured more companies [1].
Amandemen ini lolos di komite (37-29) dengan penolakan Koalisi namun pada akhirnya tidak menjadi bagian dari RUU final yang masuk ke Dewan Perwakilan Rakyat.
These amendments passed in committee (37-29) with Coalition opposition but were ultimately not part of the final bill that went to the House.
Penilaian Kredibilitas Sumber
**Video Facebook Adam Bandt:** Adam Bandt adalah pemimpin Partai Hijau Australia dan anggota parlemen federal untuk Melbourne.
**Adam Bandt's Facebook video:** Adam Bandt is the leader of the Australian Greens and a federal MP for Melbourne.
Sebagai tokoh politik dari partai oposisi, kontennya memiliki bias partisan yang melekat.
As a political figure from an opposing party, his content has inherent partisan bias.
Partai Hijau secara konsisten mengadvokasi transparansi perpajakan perusahaan yang lebih kuat, termasuk mendorong ambang batas pengungkapan yang lebih rendah dari yang diusulkan Partai Buruh [1]. **They Vote For You / OpenAustralia Foundation:** Catatan pemungutan suara parlemen bersumber dari Hansard (naskah parlemen resmi) dan dikompilasi oleh OpenAustralia Foundation, sebuah organisasi non-partisan yang menciptakan teknologi kewarganegaraan.
The Greens have consistently advocated for stronger corporate tax transparency, including pushing for lower disclosure thresholds than those proposed by Labor [1].
**They Vote For You / OpenAustralia Foundation:** The parliamentary voting records are sourced from Hansard (official parliamentary transcripts) and compiled by the OpenAustralia Foundation, a non-partisan organization that creates civic technology.
Ini adalah sumber yang sangat andal dan independen untuk catatan pemungutan suara parlemen [1][2]. **Sumber Hansard parlemen:** Catatan debat parlemen asli adalah sumber primer yang otoritatif untuk proses legislatif dan pernyataan anggota [2][3].
This is a highly reliable, independent source for parliamentary voting records [1][2].
**Parliamentary Hansard sources:** The original parliamentary debate records are authoritative primary sources for legislative proceedings and member statements [2][3].
⚖️
Perbandingan Labor
**Apakah Partai Buruh melakukan hal serupa?** Pencarian yang dilakukan: "catatan pemungutan suara transparansi perpajakan perusahaan pemerintah Partai Buruh Australia" Temuan: Partai Buruh adalah arsitek asli undang-undang transparansi perpajakan perusahaan Australia.
**Did Labor do something similar?**
Search conducted: "Labor government corporate tax transparency voting record Australia"
Finding: Labor was the original architect of Australia's corporate tax transparency laws.
Pemerintahan Partai Buruh Rudd-Gillard memperkenalkan RUU Pengubahan Undang-Undang Perpajakan (Ukuran 2013 No. 2) 2013, yang menetapkan persyaratan bagi ATO untuk menerbitkan informasi perpajakan untuk perusahaan besar (dengan ambang batas awal 100 juta dolar Australia) [2][3]. **Perbandingan posisi partai:** - **Partai Buruh (2013):** Memperkenalkan legislasi transparansi perpajakan asli yang mengharuskan pengungkapan untuk perusahaan dengan omzet 100 juta dolar Australia atau lebih - **Koalisi (2015):** Mengamandemen undang-undang untuk menaikkan ambang batas menjadi 200 juta dolar Australia, mengkecualikan ~600 perusahaan swasta - **Partai Buruh (2017-2018):** Memperkenalkan RUU untuk mengembalikan ambang batas asli 100 juta dolar Australia - **Koalisi (2018):** Memilih untuk menolak pengembalian persyaratan transparansi **Keunikan posisi Koalisi:** Amandemen Koalisi tahun 2015 dan suara mereka tahun 2018 menolak pengembalian persyaratan transparansi mewakili posisi kebijakan yang berbeda yang mengutamakan transparansi perpajakan perusahaan yang lebih sedikit daripada legislasi 2013 asli.
The Rudd-Gillard Labor government introduced the Tax Laws Amendment (2013 Measures No. 2) Bill 2013, which established the requirement for the ATO to publish tax information for large companies (originally $100 million threshold) [2][3].
**Comparison of party positions:**
- **Labor (2013):** Introduced original tax transparency legislation requiring disclosure for companies with $100M+ turnover
- **Coalition (2015):** Amended the laws to raise threshold to $200M, exempting ~600 private companies
- **Labor (2017-2018):** Introduced bill to restore original $100M threshold
- **Coalition (2018):** Voted against restoring the transparency requirements
**Uniqueness of Coalition position:** The Coalition's 2015 amendments and their 2018 vote against restoring transparency requirements represent a distinct policy position favoring less corporate tax transparency than the original 2013 legislation.
Ini bukan posisi bipartisan - ada perbedaan yang jelas antara Partai Buruh (pro-transparansi) dan Koalisi (lebih melindungi informasi perusahaan swasta) dalam isu ini [1][2][3].
This is not a bipartisan position - there is clear divergence between Labor (pro-transparency) and Coalition (more protective of private company information) on this issue [1][2][3].
🌐
Perspektif Seimbang
**Dasar yang dinyatakan Koalisi untuk menolak peningkatan transparansi:** Posisi pemerintah Koalisi, sebagaimana dinyatakan dalam dokumen parlemen dari tahun 2015 dan 2018, berpusat pada beberapa argumen [4]: 1. **Sensitivitas komersial:** Pemerintah berargumen bahwa merilis informasi perpajakan untuk perusahaan swasta dapat merugikan negosiasi komersial dan posisi kompetitif mereka 2. **Kekhawatiran keahlian ATO:** Koalisi berpendapat bahwa Kantor Perpajakan "tidak dilengkapi dengan keahlian untuk menilai sensitivitas komersial dari negosiasi perusahaan" 3. **Alokasi sumber daya:** Mereka berargumen bahwa mengharuskan ATO untuk menilai pengecualian pengungkapan akan "mengalihkan sumber daya dari aktivitas intinya" 4. **Privasi untuk perusahaan swasta:** Koalisi menegaskan bahwa perusahaan swasta harus memiliki perlindungan privasi yang lebih besar daripada perusahaan publik, yang sudah mengungkapkan informasi keuangan **Argumen balasan para kritikus:** 1. **Kepentingan publik:** Para pengadvokasi transparansi berargumen bahwa publik memiliki hak untuk mengetahui apakah perusahaan besar membayar pajak yang sesuai 2. **Ambang batas perusahaan besar:** Ambang batas 100 juta dolar Australia hanya mempengaruhi perusahaan yang sangat besar, bukan usaha kecil 3. **Preseden internasional:** Banyak yurisdiksi lain telah menerapkan persyaratan transparansi perpajakan perusahaan yang serupa atau lebih kuat 4. **Menutup celah:** Transparansi membantu mengidentifikasi strategi minimisasi pajak yang agresif **Konteks pemungutan suara 2018:** Pemungutan suara tanggal 25 Juni 2018 terjadi selama pemerintahan Turnbull.
**Coalition's stated rationale for opposing increased transparency:**
The Coalition government's position, as stated in parliamentary documents from 2015 and 2018, centered on several arguments [4]:
1. **Commercial sensitivity:** The government argued that releasing tax information for private companies could prejudice their commercial negotiations and competitive position
2. **ATO expertise concerns:** The Coalition contended that the Tax Office "is not equipped with the expertise to assess the commercial sensitivities of company negotiations"
3. **Resource allocation:** They argued that requiring ATO to assess disclosure exemptions would "divert resources away from its core activities"
4. **Privacy for private companies:** The Coalition maintained that private companies should have greater privacy protections than public companies, which already disclose financial information
**Critics' counter-arguments:**
1. **Public interest:** Transparency advocates argue that the public has a right to know whether large companies are paying appropriate tax
2. **Large company threshold:** The $100 million threshold only affects very large enterprises, not small businesses
3. **International precedent:** Many other jurisdictions have implemented similar or stronger corporate tax transparency requirements
4. **Closing loopholes:** Transparency helps identify aggressive tax minimization strategies
**The 2018 vote context:**
The June 25, 2018 vote occurred during the Turnbull government.
RUU tersebut lolos di Senat dengan dukungan independen meskipun ada penolakan Koalisi, namun akan membutuhkan dukungan Koalisi atau pergantian pemerintahan untuk menjadi undang-undang di Dewan Perwakilan Rakyat.
The bill passed the Senate with crossbench support despite Coalition opposition, but would have needed Coalition support or a change of government to become law in the House of Representatives.
Koalisi menjaga disiplin partai yang konsisten dalam pemungutan suara ini, tanpa pemberontakan tercatat [2]. **Konteks kunci:** Ini adalah perbedaan kebijakan yang sah antara partai-partai besar mengenai keseimbangan yang tepat antara transparansi perusahaan dan privasi komersial, bukan sekadar saling serang partisan.
The Coalition maintained consistent party discipline on this vote, with no recorded rebellions [2].
**Key context:** This is a genuine policy disagreement between the major parties on the appropriate balance between corporate transparency and commercial privacy, not merely partisan point-scoring.
Partai Buruh mengutamakan transparansi yang lebih besar untuk perusahaan besar, sementara Koalisi mengutamakan melindungi informasi perusahaan swasta dari pengungkapan publik.
Labor favors greater transparency for large corporations, while the Coalition prioritizes protecting private company information from public disclosure.
BENAR
8.0
/ 10
Klaim ini akurat secara faktual.
The claim is factually accurate.
Koalisi (Partai Liberal, Partai Nasional, Partai Liberal Nasional, dan Partai Liberal Nasional Wilayah Utara) memang memilih untuk menolak RUU Pengubahan Administrasi Perpajakan (Informasi Entitas Pajak Perusahaan) 2017 pada tanggal 25 Juni 2018, yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi perpajakan dengan menurunkan ambang batas pengungkapan untuk perusahaan swasta besar dari 200 juta menjadi 100 juta dolar Australia [1][2].
The Coalition (Liberal Party, National Party, Liberal National Party, and Country Liberal Party) did vote against the Taxation Administration Amendment (Corporate Tax Entity Information) Bill 2017 on June 25, 2018, which sought to increase tax transparency by lowering the disclosure threshold for large private companies from $200 million to $100 million [1][2].
Catatan pemungutan suara parlemen dengan jelas menunjukkan 22 senator Koalisi memilih Tidak, dengan nol memilih Ya.
Parliamentary voting records clearly show 22 Coalition senators voting No, with zero voting Yes.
RUU tersebut akan mengharuskan ATO untuk merilis data perpajakan secara publik untuk sekitar 600 perusahaan swasta besar tambahan yang telah dikecualikan oleh amandemen Koalisi yang lolos pada tahun 2015.
The bill would have required the ATO to publicly release tax data for approximately 600 additional large private companies that had been exempted by Coalition amendments passed in 2015.
Skor Akhir
8.0
/ 10
BENAR
Klaim ini akurat secara faktual.
The claim is factually accurate.
Koalisi (Partai Liberal, Partai Nasional, Partai Liberal Nasional, dan Partai Liberal Nasional Wilayah Utara) memang memilih untuk menolak RUU Pengubahan Administrasi Perpajakan (Informasi Entitas Pajak Perusahaan) 2017 pada tanggal 25 Juni 2018, yang bertujuan untuk meningkatkan transparansi perpajakan dengan menurunkan ambang batas pengungkapan untuk perusahaan swasta besar dari 200 juta menjadi 100 juta dolar Australia [1][2].
The Coalition (Liberal Party, National Party, Liberal National Party, and Country Liberal Party) did vote against the Taxation Administration Amendment (Corporate Tax Entity Information) Bill 2017 on June 25, 2018, which sought to increase tax transparency by lowering the disclosure threshold for large private companies from $200 million to $100 million [1][2].
Catatan pemungutan suara parlemen dengan jelas menunjukkan 22 senator Koalisi memilih Tidak, dengan nol memilih Ya.
Parliamentary voting records clearly show 22 Coalition senators voting No, with zero voting Yes.
RUU tersebut akan mengharuskan ATO untuk merilis data perpajakan secara publik untuk sekitar 600 perusahaan swasta besar tambahan yang telah dikecualikan oleh amandemen Koalisi yang lolos pada tahun 2015.
The bill would have required the ATO to publicly release tax data for approximately 600 additional large private companies that had been exempted by Coalition amendments passed in 2015.