Sebagian Benar

Penilaian: 5.0/10

Coalition
C0653

Klaim

“Mengesahkan undang-undang untuk mengizinkan personel dan rekanan ASIO melakukan penyiksaan, dan kejahatan lain apa pun selain pembunuhan, penginfeksian luka serius, serangan seksual, dan kerusakan properti.”
Sumber Asli: Matthew Davis
Dianalisis: 31 Jan 2026

Sumber Asli

VERIFIKASI FAKTA

Klaim ini mengacu pada **RUU Amandemen Legislasi Keamanan Nasional (No. 1) 2014**, khususnya **Bagian 35K** yang memberikan kekebalan dari tanggung jawab sipil dan pidana untuk personel ASIO yang melakukan "operasi intelijen khusus." **Ketentuan rancangan asli (Juli 2014):** Bagian 35K menyatakan bahwa peserta ASIO akan memiliki kekebalan dari tanggung jawab atas perilaku yang TIDAK melibatkan: - (i) menyebabkan kematian, atau cedera serius pada, seseorang apa pun - (ii) melakukan tindak pidana seksual terhadap seseorang apa pun - (iii) menyebabkan kerugian signifikan, atau kerusakan serius pada, properti [1][2] **Penghilangan kritis dalam rancangan asli:** Penyiksaan **tidak secara eksplisit dikecualikan** dari ketentuan kekebalan dalam rancangan undang-undang asli yang diusulkan pada Juli 2014 [2][3].
The claim refers to the **National Security Legislation Amendment Bill (No. 1) 2014**, specifically **Section 35K** which provided immunity from civil and criminal liability for ASIO operatives conducting "special intelligence operations." **Original draft provisions (July 2014):** Section 35K stated that ASIO participants would have immunity from liability for conduct that did NOT involve: - (i) causing death of, or serious injury to, any person - (ii) commission of a sexual offence against any person - (iii) causing significant loss of, or serious damage to, property [1][2] **Critical omission in original draft:** Torture was **not explicitly excluded** from the immunity provisions in the original bill tabled in July 2014 [2][3].
Para ahli hukum dan senator lintas bangku mengangkat kekhawatiran bahwa perancangan tersebut menciptakan potensi celah di mana penyiksaan bisa masuk dalam cakupan perilaku yang diizinkan [2]. **Respons pemerintah:** Setelah kritik dari Senator David Leyonhjelm lintas bangku dan pengawasan media, Jaksa Agung George Brandis mengumumkan pada **22 September 2014** bahwa pemerintah akan mengamendemen legislasi untuk "menambahkan larangan eksplisit terkait penyiksaan" [1][3].
Legal experts and crossbench senators raised concerns that the drafting created a potential loophole where torture could fall within the scope of permitted conduct [2]. **Government response:** Following criticism from crossbench Senator David Leyonhjelm and media scrutiny, Attorney-General George Brandis announced on **September 22, 2014** that the government would amend the legislation to "add an explicit prohibition in relation to torture" [1][3].
Brandis menyatakan perubahan ini dilakukan untuk "menghindari perdebatan yang menyimpang" dan menyebut kekhawatiran tentang penyiksaan sebagai "secara efektif gangguan belaka" [1]. **Legislasi akhir:** Rancangan undang-undang tersebut kemudian diamendemen untuk secara eksplisit melarang penyiksaan sebelum disahkan menjadi undang-undang [3][4].
Brandis stated this change was made to "avoid the debate being diverted" and called the torture concern "effectively a red herring" [1]. **Final legislation:** The bill was subsequently amended to explicitly prohibit torture before passing into law [3][4].

Konteks yang Hilang

**Klaim ini menghilangkan beberapa fakta krusial:** 1. **Legislasi tersebut diamendemen sebelum disahkan** untuk secara eksplisit melarang penyiksaan setelah kekhawatiran diangkat [1][3].
**The claim omits several crucial facts:** 1. **The legislation was amended before passing** to explicitly prohibit torture after concerns were raised [1][3].
Undang-undang final tidak mengizinkan penyiksaan. 2. **Kekebalan tersebut bukanlah kekuasaan tanpa batas** - hanya berlaku untuk "operasi intelijen khusus" yang secara spesifik diotorisasi, dan mengecualikan kematian, cedera serius, tindak pidana seksual, dan kerusakan properti signifikan [2]. 3. **Rasionalitas kebijakan:** Ketentuan kekebalan dirancang untuk mengatasi situasi di mana operasi intelijen rahasia mungkin mengekspos personel terhadap tanggung jawab hukum untuk pelanggaran ringan yang dilakukan dalam rangka operasi yang diotorisasi - bukan untuk mengaktifkan penyiksaan [2].
The final law did not permit torture. 2. **The immunity was not unlimited carte blanche** - it applied only to "special intelligence operations" that were specifically authorized, and excluded death, serious injury, sexual offences, and significant property damage [2]. 3. **The policy rationale:** The immunity provision was designed to address situations where covert intelligence operations might expose personnel to legal liability for minor offences committed in the course of authorized operations - not to enable torture [2].
Brandis menjelaskan: "Operasi rahasia mungkin mengekspos personel intelijen atau sumber terhadap tanggung jawab hukum dalam pelaksanaan tugas mereka.
Brandis explained: "Covert operations may expose intelligence personnel or sources to legal liability in the course of their work.
Oleh karena itu, beberapa operasi rahasia signifikan tidak dimulai atau dihentikan" [2]. 4. **Posisi publik ASIO:** Direktur-Jenderal ASIO yang baru, Duncan Lewis, menyatakan secara publik: "Organisasi Intelijen Keamanan Australia tidak pernah melakukan penyiksaan, tidak melakukan penyiksaan, dan tidak akan pernah melakukannya" [1]. 5. **Klaim menggunakan kata kerja aktif** ("mengesahkan untuk mengizinkan") yang menyiratkan ini adalah undang-undang yang berlaku, padahal kenyataannya legislasi final secara eksplisit melarang penyiksaan.
For this reason, some significant covert operations do not commence or are ceased" [2]. 4. **ASIO's public position:** New ASIO Director-General Duncan Lewis stated publicly: "The Australian Security Intelligence Organisation has never practised torture, it does not practise torture and it never will" [1]. 5. **The claim uses present tense** ("legislated to permit") implying this is current law, when in fact the final legislation explicitly banned torture.

Penilaian Kredibilitas Sumber

Sumber asli yang disediakan dengan klaim ini **terutama adalah opini/komentar**, bukan pelaporan berita faktual: 1. **Vice Media** - Artikel Vice berasal dari bagian komentari/opini Vice.
The original sources provided with this claim are **primarily opinion/commentary pieces**, not factual news reporting: 1. **Vice Media** - The Vice article is from Vice's commentary/opinion section.
Vice telah menghadapi kritik atas jurnalisme yang sensasional dan memiliki posisi editorial yang sering kritis terhadap kebijakan keamanan pemerintah [5]. 2. **Sydney Morning Herald (Paul Sheehan)** - Ini adalah **tulisan opini** oleh seorang kolumnis, bukan pelaporan berita lurus.
Vice has faced criticism for sensationalist journalism and has a stated editorial position that is often critical of government security policies [5]. 2. **Sydney Morning Herald (Paul Sheehan)** - This is an **opinion piece** by a columnist, not straight news reporting.
Sheehan memiliki sejarah tulisan opini yang kontroversial [2]. 3. **The Guardian (Comment is Free)** - Ini secara eksplisit adalah bagian **komentari/opini**, bukan pelaporan berita [5]. 4. **SMH (tulisan kedua)** - Juga tampaknya merupakan komentari [5]. **Penilaian:** Sumber-sumber tersebut adalah tulisan opini dari komentator dengan skeptisisme yang diketahui terhadap legislasi keamanan.
Sheehan has a history of controversial opinion pieces [2]. 3. **The Guardian (Comment is Free)** - This is explicitly a **commentary/opinion** section, not news reporting [5]. 4. **SMH (second piece)** - Also appears to be commentary [5]. **Assessment:** The sources are opinion pieces from commentators with known skepticism toward security legislation.
Mereka mewakili kekhawatiran yang sah yang diangkat selama perdebatan namun membingkaikannya sebagai fakta definitif daripada satu perspektif dalam perdebatan kebijakan.
They represent legitimate concerns raised during the debate but frame them as definitive fact rather than one perspective in a policy debate.
Sumber-sumber tersebut tidak mengakui bahwa pemerintah mengamendemi legislasi sebagai respons terhadap kekhawatiran ini.
The sources do not acknowledge that the government amended the legislation in response to these concerns.
⚖️

Perbandingan Labor

**Apakah Partai Buruh memperluas kekuatan ASIO secara serupa?** **Ya - Partai Buruh secara signifikan memperluas kekuatan ASIO:** 1. **Ekspansi Buruh 2011:** Pemerintah Partai Buruh Rudd/Gillard berupaya untuk "secara signifikan memperluas kemampuan pengawasan ASIO" termasuk kemampuan pemantauan yang diperkuat [6]. 2. **Legislasi Buruh 2024:** Pemerintahan Partai Buruh Albanese (2022-sekarang) telah membuat kekuatan pemeriksaan paksa ASIO **permanen** dan berupaya memperluas pelanggaran yang dicakup oleh aturan ini [7]. 3. **Kekuatan pemeriksaan ASIO:** Partai Buruh secara konsisten mendukung dan memperluas kekuatan pemeriksaan dan penahanan luar biasa ASIO.
**Did Labor expand ASIO powers similarly?** **Yes - Labor significantly expanded ASIO powers:** 1. **2011 Labor expansion:** The Rudd/Gillard Labor government moved to "significantly expand the surveillance powers of ASIO" including enhanced monitoring capabilities [6]. 2. **2024 Labor legislation:** The Albanese Labor government (2022-present) has made ASIO's compulsory questioning powers **permanent** and sought to expand the offences covered by these rules [7]. 3. **ASIO questioning powers:** Labor has consistently supported and expanded ASIO's extraordinary questioning and detention powers.
Amandemen 2020 (disahkan dengan dukungan Buruh) memperpanjang kekuatan-kekuatan ini dan memperluas cakupannya [8]. 4. **Proposal ekspansi 2025:** ASIO saat ini berupaya memperluas surat pemeriksaan untuk mencakup definisi "keamanan" yang lebih luas di bawah pemerintahan Partai Buruh [7]. **Kesimpulan:** Kedua partai besar secara konsisten memperluas kekuatan ASIO ketika berkuasa.
The 2020 amendments (passed with Labor support) extended these powers and expanded their scope [8]. 4. **2025 expansion proposals:** ASIO is currently seeking to expand questioning warrants to cover broader "security" definitions under the Labor government [7]. **Conclusion:** Both major parties have consistently expanded ASIO powers when in government.
Legislasi Koalisi 2014 mengikuti pola ini.
The Coalition's 2014 legislation followed this pattern.
Meskipun perancangan awal menciptakan kekhawatiran yang sah tentang penyiksaan, Partai Buruh itu sendiri telah mendukung dan memperluas kerangka keamanan nasional yang serupa.
While the initial drafting created legitimate concerns about torture, the Labor party itself has supported and expanded similar national security frameworks.
🌐

Perspektif Seimbang

**Apa yang benar dari klaim ini:** - Rancangan asli RUU Amandemen Legislasi Keamanan Nasional (No. 1) 2014 tidak secara eksplisit mengecualikan penyiksaan dari ketentuan kekebalan [2] - Para ahli hukum dan senator lintas bangku mengangkat kekhawatiran yang sah tentang penghilangan perancangan ini [1][2] - Kekebalan tersebut memang mengecualikan pembunuhan, cedera serius, serangan seksual, dan kerusakan properti [2] **Apa yang salah atau dihilangkan dari klaim ini:** - Klaim ini menyiratkan penyiksaan diizinkan secara sengaja - tidak ada bukti bahwa ini adalah niat pemerintah; tampaknya merupakan penghilangan perancangan - Pemerintah mengamendemi rancangan undang-undang untuk secara eksplisit melarang penyiksaan sebelum menjadi undang-undang [1][3] - Legislasi final tidak mengizinkan penyiksaan - Kekebalan hanya berlaku untuk "operasi intelijen khusus" yang diotorisasi, bukan perilaku tanpa batas - Kedua pemerintah Partai Buruh dan Koalisi telah memperluas kekuatan ASIO, menjadikan ini pola bipartisan daripada pelampauan unik Koalisi **Konteks kunci:** Perancangan Bagian 35K menciptakan kekhawatiran yang sah yang diidentifikasi para ahli hukum - pengecualian penyiksaan seharusnya eksplisit sejak awal.
**What the claim gets right:** - The original draft of the National Security Legislation Amendment Bill (No. 1) 2014 did not explicitly exclude torture from the immunity provisions [2] - Legal experts and crossbench senators raised legitimate concerns about this drafting oversight [1][2] - The immunity did exclude murder, serious injury, sexual assault, and property damage [2] **What the claim gets wrong or omits:** - The claim implies torture was intentionally permitted - there's no evidence this was the government's intent; it appears to have been a drafting oversight - The government amended the bill to explicitly prohibit torture before it became law [1][3] - The final legislation did not permit torture - The immunity only applied to authorized "special intelligence operations," not unlimited conduct - Both Labor and Coalition governments have expanded ASIO powers, making this a bipartisan pattern rather than a unique Coalition overreach **Key context:** The drafting of Section 35K created a legitimate concern that legal experts identified - the exclusion of torture should have been explicit from the outset.
Namun, pembingkaian klaim sebagai "mengesahkan untuk mengizinkan penyiksaan" menyiratkan otorisasi sengaja daripada penghilangan perancangan yang kemudian dikoreksi.
However, the claim's framing as "legislated to permit torture" implies intentional authorization rather than a drafting oversight that was subsequently corrected.
Pemerintah merespons kritik dengan mengamendemi legislasi, yang merupakan cara proses parlemen seharusnya bekerja.
The government responded to criticism by amending the legislation, which is how the parliamentary process is supposed to work.
Ini **bukan unik untuk Koalisi** - Partai Buruh secara konsisten mendukung dan memperluas kekuatan ASIO ketika berkuasa, termasuk membuat kekuatan pemeriksaan paksa permanen dan berupaya memperluas cakupannya [7].
This is **not unique to the Coalition** - Labor has consistently supported and expanded ASIO powers when in government, including making compulsory questioning powers permanent and seeking to expand their scope [7].

SEBAGIAN BENAR

5.0

/ 10

Klaim ini akurat secara faktual dalam hal rancangan undang-undang asli tidak secara eksplisit mengecualikan penyiksaan dari ketentuan kekebalan - menciptakan potensi celah yang diidentifikasi para ahli hukum.
The claim is factually accurate in that the original draft legislation did not explicitly exclude torture from the immunity provisions - creating a potential loophole that legal experts identified.
Ini adalah kritik yang sah yang diangkat selama perdebatan parlemen.
This was a legitimate criticism raised during the parliamentary debate.
Namun, klaim ini menyesatkan karena: 1.
However, the claim is misleading because: 1.
Menyiratkan pemerintah bermaksud melegalkan penyiksaan, ketika bukti menunjukkan hal itu adalah penghilangan perancangan 2.
It implies the government intended to legalize torture, when evidence suggests it was a drafting oversight 2.
Gagal menyebutkan pemerintah mengamendemi rancangan undang-undang untuk secara eksplisit melarang penyiksaan sebelum disahkan 3.
It fails to mention the government amended the bill to explicitly prohibit torture before passage 3.
Menggunakan kata kerja aktif yang menyiratkan ini adalah undang-undang yang berlaku, ketika legislasi final melarang penyiksaan 4.
It uses present tense implying this is current law, when the final legislation banned torture 4.
Mengabaikan bahwa pemerintahan Partai Buruh telah secara serupa memperluas kekuatan ASIO Sumber asli adalah tulisan opini yang menyajikan satu sisi perdebatan tanpa mengakui amandemen selanjutnya atau konteks bipartisan yang lebih luas dari ekspansi keamanan nasional.
It ignores that Labor governments have similarly expanded ASIO powers The original sources are opinion pieces that present one side of the debate without acknowledging the subsequent amendments or the broader bipartisan context of national security expansions.

📚 SUMBER DAN KUTIPAN (8)

  1. 1
    abc.net.au

    abc.net.au

    New counter-terrorism laws to bolster the powers of security agencies will be changed to allay crossbench fears the original legislation would have allowed suspects to be tortured. MPs have returned to Canberra after a two-week break to find tighter security measures at Parliament House amid increased concerns about potential threats to the building. Key Senate crossbencher David Leyonhjelm has raised concerns the provision could allow Australian Security Intelligence Organisation agents to torture suspects. Prime Minister Tony Abbott is set to make a statement to Parliament later today about national security.

    Abc Net
  2. 2
    smh.com.au

    smh.com.au

    The proposed national security law is filled with 150 shades of grey, including immunity for the use of torture .

    The Sydney Morning Herald
  3. 3
    afr.com

    afr.com

    Afr

  4. 4
    smh.com.au

    smh.com.au

    New laws set to be passed by Canberra this week will make it a crime for the media or anyone else to disclose the death of an innocent bystander caught up in a bungled covert spy agency operation, the government’s dumped Independent National Security Legislation Monitor has warned.

    The Sydney Morning Herald
  5. 5
    vice.com

    vice.com

    Vice

    Original link unavailable — view archived version
  6. 6
    wsws.org

    wsws.org

    ASIO will have the power to monitor anyone overseas, who is considered a threat to “national economic well-being,” “security” or “foreign relations.”

    World Socialist Web Site
  7. 7
    theguardian.com

    theguardian.com

    Exclusive: Tony Burke also introduced legislation to add sabotage, promotion of communal violence and serious threats to Australia’s border security to the rules

    the Guardian
  8. 8
    PDF

    3332 ASIO's Questioning and detention powers

    Lawcouncil • PDF Document

Metodologi Skala Penilaian

1-3: SALAH

Secara faktual salah atau fabrikasi jahat.

4-6: SEBAGIAN

Ada kebenaran tetapi konteks hilang atau menyimpang.

7-9: SEBAGIAN BESAR BENAR

Masalah teknis kecil atau masalah redaksi.

10: AKURAT

Terverifikasi sempurna dan adil secara kontekstual.

Metodologi: Penilaian ditentukan melalui referensi silang catatan pemerintah resmi, organisasi pemeriksa fakta independen, dan dokumen sumber primer.