Salah

Penilaian: 2.0/10

Coalition
C0670

Klaim

“Falsely claimed that nations around the world are scrapping emissions trading schemes, even though there is currently a net increase in adoption of such schemes.”
Sumber Asli: Matthew Davis

Sumber Asli

VERIFIKASI FAKTA

**Klaim ini secara faktual akurat.** Perdana Menteri Tony Abbott memang berulang kali menyatakan pada tahun 2014 bahwa skema perdagangan emisi "dibuang" di seluruh dunia, sementara bukti yang berwenang menunjukkan sebaliknya.
**The claim is factually accurate.** Prime Minister Tony Abbott did repeatedly assert in 2014 that emissions trading schemes were "being discarded" around the world, while authoritative evidence showed the opposite was true.
Menurut pemeriksaan fakta ABC dari tanggal 9 Juli 2014, Tony Abbott menyatakan: "Tidak ada tanda bahwa skema perdagangan semakin diadopsi.
According to an ABC fact check from July 9, 2014, Tony Abbott stated: "There is no sign that trading schemes are increasingly being adopted.
Jika ada apa pun, skema perdagangan dibuang bukan diadopsi" [1].
If anything trading schemes are being discarded not adopted" [1].
Pernyataan ini disampaikan sebagai bagian dari dorongan pemerintah Koalisi untuk mencabut rezim penetapan harga karbon milik Partai Buruh.
This statement was made as part of the Coalition government's push to repeal Labor's carbon pricing regime.
Namun, beberapa sumber yang berwenang membantah klaim Abbott: Laporan Bank Dunia "State and Trends of Carbon Pricing 2014" (diterbitkan 28 Mei 2014) mendokumentasikan pertumbuhan signifikan dalam mekanisme penetapan harga karbon secara global.
However, multiple authoritative sources contradicted Abbott's claim: The World Bank's "State and Trends of Carbon Pricing 2014" report (published May 28, 2014) documented significant growth in carbon pricing mechanisms globally.
Menurut Bank Dunia, "39 yurisdiksi nasional dan 23 yurisdiksi sub-nasional - yang bertanggung jawab atas hampir seperempat dari emisi gas rumah kaca global - telah menerapkan atau dijadwalkan untuk menerapkan instrumen penetapan harga karbon" [2].
According to the World Bank, "39 national and 23 sub-national jurisdictions – responsible for almost a quarter of the global greenhouse gas emissions – have implemented or are scheduled to implement carbon pricing instruments" [2].
Laporan tersebut secara khusus mencatat bahwa "delapan pasar karbon baru dibuka pada tahun 2013, dan yang lainnya diluncurkan pada awal 2014," dengan skema perdagangan emisi dunia yang dinilai sekitar US$30 miliar [2].
The report specifically noted that "eight new carbon markets opened in 2013, and another launched in early 2014," with the world's emissions trading schemes valued at approximately US$30 billion [2].
Laporan Status ICAP (International Carbon Action Partnership) 2014 memberikan bukti lebih lanjut, menyatakan bahwa "2013 adalah tahun rekor: secara total, sembilan skema perdagangan emisi (ETS) baru mulai beroperasi di seluruh dunia" [3].
The International Carbon Action Partnership (ICAP) Status Report 2014 provided further evidence, stating that "2013 was a record year: in total, nine new emissions trading schemes (ETS) started operation worldwide" [3].
Lima dari sistem baru ini berada di Tiongkok, negara dengan emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, dengan skema percontohan yang diluncurkan di Shenzhen, Shanghai, Beijing, Guangdong, Hubei, dan Tianjin [3][2]. **Verdict ABC:** Unit pemeriksaan fakta ABC menyimpulkan: "Klaim Tuan Abbott bahwa skema perdagangan dibuang bukan diadopsi tidak memenuhi pemeriksaan" [1].
Five of these new systems were in China, the world's largest emitter of greenhouse gases, with pilot schemes launched in Shenzhen, Shanghai, Beijing, Guangdong, Hubei, and Tianjin [3][2]. **ABC's verdict:** The ABC fact check unit concluded: "Mr Abbott's claim that trading schemes are being discarded not adopted does not check out" [1].

Konteks yang Hilang

**Posisi Koalisi dalam konteks historis:** Pemerintahan Abbott berkomitmen untuk mencabut Clean Energy Act 2011 (mekanisme penetapan harga karbon yang diperkenalkan oleh pemerintahan Gillard Partai Buruh), yang mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2012 [4].
**The Coalition's position in historical context:** The Abbott government was committed to repealing the Clean Energy Act 2011 (the carbon pricing mechanism introduced by the Gillard Labor government), which took effect on July 1, 2012 [4].
Pencabutan tersebut akhirnya disahkan pada tanggal 17 Juli 2014 [4]. **Analisis ahli tentang posisi unik Australia:** Professor Stephen Howes, Direktur Pusat Kebijakan Pembangunan di Universitas Nasional Australia, menyatakan pada tahun 2014: "Saya akan mengatakan Australia menonjol sebagai satu-satunya negara yang telah menerapkan harga karbon dan kemudian memutuskan untuk membuangnya.
The repeal was ultimately passed on July 17, 2014 [4]. **Expert analysis on Australia's unique position:** Professor Stephen Howes, Director of the Development Policy Centre at the Australian National University, stated in 2014: "I'd say Australia stands out as being the only country that has put in place a carbon price and then decided to discard it.
Jadi perlahan tapi pasti kita melihat lebih banyak negara, lebih banyak pemerintah daripada yang mengurangi, yang menerapkan skema perdagangan emisi, harga karbon dari satu jenis atau lainnya" [1].
So slowly but surely we are seeing more countries, more governments rather than less putting in place emissions trading schemes, carbon prices of one type or another" [1].
Professor Ross Garnaut, ekonom yang memimpin Garnaut Climate Change Review 2008, mengatakan kepada ABC bahwa dia tidak tahu tempat lain di dunia di mana penetapan harga karbon sedalikannya: "Saya mengenal banyak negara yang sedang dalam proses memperkenalkan skema perdagangan emisi...
Professor Ross Garnaut, the economist who headed the 2008 Garnaut Climate Change Review, told the ABC he didn't know of anywhere else in the world where carbon pricing was being rolled back: "I know a lot of countries that are in the process of introducing emissions trading schemes...
Saya tidak tahu negara mana pun yang benar-benar membongkarnya.
I don't know of any country that's actually dismantling them.
Banyak aksi di banyak negara, Australia berenang melawan arus" [1].
Lots of action in lots of countries, Australia is swimming against that tide" [1].

Penilaian Kredibilitas Sumber

**Sumber asli:** ABC (Australian Broadcasting Corporation) adalah penyiar publik Australia, umumnya dianggap sebagai sumber berita arus utama dan bereputasi dengan kewajiban hukum untuk menjaga independensi dan akurasi.
**Original source:** The ABC (Australian Broadcasting Corporation) is Australia's public broadcaster, generally regarded as a mainstream, reputable news source with a statutory obligation to maintain independence and accuracy.
Artikel spesifik yang dikutip dalam klaim (Program PM ABC, 2014) adalah laporan berita.
The specific article cited in the claim (ABC PM program, 2014) is a news report.
Unit pemeriksaan fakta ABC, yang secara independen memverifikasi klaim ini, adalah layanan pemeriksaan fakta khusus yang menilai pernyataan politik terhadap bukti yang tersedia.
ABC's fact check unit, which independently verified this claim, was a dedicated fact-checking service that assessed political statements against available evidence.
Pemeriksaan fakta ini kredibel karena: - Secara langsung mengutip pernyataan Perdana Menteri - Mengutip sumber yang berwenang (Bank Dunia, profesor ANU, Garnaut Review) - Memberikan poin data spesifik dengan tanggal - Menyertakan berbagai pendapat ahli **Sumber berwenang tambahan:** - Bank Dunia: Institusi keuangan internasional yang sangat kredibel dengan keahlian dalam keuangan iklim - ICAP (International Carbon Action Partnership): Forum internasional untuk pemerintah yang bekerja pada perdagangan emisi - ANU (Australian National University): Universitas riset terkemuka Australia - Professor Ross Garnaut: Ekonom yang diakui secara internasional dengan keahlian kebijakan iklim
The fact check is credible because it: - Directly quotes the Prime Minister's statements - Cites authoritative sources (World Bank, ANU professors, Garnaut Review) - Provides specific data points with dates - Includes multiple expert opinions **Additional authoritative sources:** - World Bank: Highly credible international financial institution with expertise in climate finance - ICAP (International Carbon Action Partnership): International forum for governments working on emissions trading - ANU (Australian National University): Australia's leading research university - Professor Ross Garnaut: Internationally recognized economist with climate policy expertise
⚖️

Perbandingan Labor

**Apakah Partai Buruh melakukan hal serupa?** Tidak.
**Did Labor do something similar?** No.
Partai Buruh (di bawah pemerintahan Rudd dan Gillard) mengejar *implementasi* penetapan harga karbon, bukan pencabutannya.
The Labor Party (under both Rudd and Gillard governments) pursued the *implementation* of carbon pricing, not its repeal.
Garis waktu historis menunjukkan: - **2007:** Kevin Rudd berkomitmen pada skema perdagangan emisi (Carbon Pollution Reduction Scheme - CPRS) - **2009:** RUU CPRS dikalahkan di Senat (divoting turun oleh Partai Hijau dan Koalisi) - **2011:** Pemerintahan Julia Gillard mengesahkan Clean Energy Act (mekanisme penetapan harga karbon) - **2012:** Penetapan harga karbon mulai berlaku pada tanggal 1 Juli 2012 - **2014:** Pemerintahan Koalisi Abbott mencabut mekanisme penetapan harga karbon Australia unik secara global sebagai satu-satunya negara yang telah mengimplementasikan dan kemudian mencabut skema perdagangan emisi karbon [5].
The historical timeline shows: - **2007:** Kevin Rudd committed to an emissions trading scheme (Carbon Pollution Reduction Scheme - CPRS) - **2009:** CPRS legislation was defeated in the Senate (voted down by Greens and Coalition) - **2011:** Julia Gillard government passed the Clean Energy Act (carbon pricing mechanism) - **2012:** Carbon pricing took effect on July 1, 2012 - **2014:** Abbott Coalition government repealed the carbon pricing mechanism Australia is unique globally as the only country to have implemented and then repealed a carbon emission trading scheme [5].
Pembalikan ini adalah hasil langsung dari "perang iklim" Australia - perselisihan politik seputar kebijakan iklim [5].
This reversal was a direct result of Australia's 'climate wars' - political strife surrounding climate policy [5].
Pemerintahan Partai Buruh (Rudd 2007-2010, Gillard 2010-2013) secara konsisten mendukung mekanisme penetapan harga karbon, sementara Koalisi (Howard 1996-2007, Abbott 2013-2015) menentangnya.
The Labor governments (Rudd 2007-2010, Gillard 2010-2013) consistently supported carbon pricing mechanisms, while the Coalition (Howard 1996-2007, Abbott 2013-2015) opposed them.
Perlu dicatat, pemerintahan Liberal John Howard sebenarnya telah mengusulkan skema perdagangan emisi pada tahun 2007 sebagai kebijakan pemilu sebelum kalah pemilu [4].
Notably, John Howard's Liberal government had actually proposed an emissions trading scheme in 2007 as an election policy before losing office [4].
🌐

Perspektif Seimbang

**Pembenaran Koalisi:** Pemerintahan Abbott berargumen bahwa mekanisme penetapan harga karbon Australia menempatkan negara pada kerugian ekonomi tanpa memberikan manfaat lingkungan, mengingat bahwa mitra dagang Australia kekurangan penetapan harga karbon atau memiliki harga karbon yang jauh lebih rendah [1].
**The Coalition's justification:** The Abbott government argued that Australia's carbon pricing mechanism placed the country at an economic disadvantage without delivering environmental benefits, given that Australia's trading partners either lacked carbon pricing or had much lower carbon prices [1].
Mereka mengadvokasi kebijakan "Direct Action" mereka sebagai pendekatan alternatif untuk pengurangan emisi [4]. **Faktor yang memperumit:** 1. **Keruntuhan harga karbon Eropa:** Pada bulan April 2013, harga karbon Eropa runtuh serendah A$3,34/tonne dibandingkan dengan tarif tetap Australia sebesar A$23/tonne [4].
They advocated for their "Direct Action" policy as an alternative approach to emissions reduction [4]. **Complicating factors:** 1. **European carbon price collapse:** In April 2013, the European carbon price collapsed to as low as AU$3.34/tonne compared to Australia's fixed rate of $23/tonne [4].
Perbedaan harga ini digunakan oleh kritikus untuk berargumen bahwa harga karbon Australia terlalu tinggi relatif terhadap pasar internasional. 2. **Konteks politik:** Mekanisme penetapan harga karbon sangat kontroversial secara politik.
This price differential was used by critics to argue that Australia's carbon price was too high relative to international markets. 2. **Political context:** The carbon pricing mechanism was highly controversial politically.
Tony Abbott berkampanye dalam pemilihan tahun 2013 pada platform untuk "memotong pajak," berjanji bahwa rumah tangga akan menghemat $550 per tahun jika pajak karbon dicabut [4]. 3. **Kemajuan Tiongkok:** Terlepas dari klaim Abbott, Tiongkok dengan cepat memperluas perdagangan emisi.
Tony Abbott campaigned in the 2013 election on a platform to "axe the tax," pledging that households would save $550 per year if the carbon tax was repealed [4]. 3. **China's progress:** Despite Abbott's claims, China was rapidly expanding emissions trading.
Pada tahun 2014, Tiongkok telah meluncurkan enam skema ETS percontohan dan merencanakan ETS nasional selama Rencana Lima Tahun ke-13 (2016-2020) [2].
By 2014, China had launched six pilot ETS schemes and was planning a national ETS during the 13th Five Year Plan (2016-2020) [2].
Bank Dunia mencatat: "Dengan enam percontohan Tiongkok yang beroperasi, Tiongkok kini menampung pasar karbon terbesar kedua di dunia, mencakup setara lebih dari 1,1 miliar ton CO2, tepat di belakang EU ETS" [2]. 4. **Posisi unik Australia:** Sebagaimana dicatat oleh para ahli, Australia menjadi satu-satunya negara di dunia yang mengimplementasikan dan kemudian sepenuhnya mencabut mekanisme penetapan harga karbon [5]. **Konteks kunci:** Klaim ini unik untuk Koalisi - tidak ada partai politik Australia lain yang membuat klaim serupa tentang pengabaian ETS global.
The World Bank noted: "With the six Chinese pilots operational, China now houses the second largest carbon market in the world, covering the equivalent of over 1.1 billion tons of CO2, just behind the EU ETS" [2]. 4. **Australia's unique position:** As noted by experts, Australia became the only country in the world to implement and then completely repeal a carbon pricing mechanism [5]. **Key context:** This claim is unique to the Coalition - no other Australian political party made similar claims about global abandonment of ETS.
Rekor faktual dengan jelas menunjukkan bahwa pada 2013-2014, ada pertumbuhan bersih dalam adopsi skema perdagangan emisi secara global, bukan kontraksi.
The factual record clearly shows that in 2013-2014, there was net growth in emissions trading scheme adoption globally, not contraction.

SALAH

2.0

/ 10

Klaim berulang Tony Abbott bahwa skema perdagangan emisi "dibuang" di seluruh dunia secara faktual tidak benar.
Tony Abbott's repeated claims that emissions trading schemes were "being discarded" around the world were factually incorrect.
Beberapa sumber yang berwenang (Bank Dunia 2014, ICAP 2014) mendokumentasikan peningkatan bersih dalam adopsi ETS, dengan sembilan skema baru dimulai pada tahun 2013 dan pertumbuhan berlanjut pada tahun 2014.
Multiple authoritative sources (World Bank 2014, ICAP 2014) documented a net increase in ETS adoption, with nine new schemes starting in 2013 and continued growth in 2014.
Australia, pada kenyataannya, adalah satu-satunya negara yang bergerak dalam arah yang berlawanan dengan mencabut mekanisme penetapan harga karbonnya pada tahun 2014.
Australia was, in fact, the only country moving in the opposite direction by repealing its carbon pricing mechanism in 2014.
Analisis ahli dari Stephen Howes ANU dan Professor Ross Garnaut mengonfirmasi bahwa tidak ada negara lain yang membongkar penetapan harga karbon sementara Australia sedang melanjutkan pencabutan.
Expert analysis from ANU's Stephen Howes and Professor Ross Garnaut confirmed that no other country was dismantling carbon pricing while Australia was proceeding with repeal.

Metodologi Skala Penilaian

1-3: SALAH

Secara faktual salah atau fabrikasi jahat.

4-6: SEBAGIAN

Ada kebenaran tetapi konteks hilang atau menyimpang.

7-9: SEBAGIAN BESAR BENAR

Masalah teknis kecil atau masalah redaksi.

10: AKURAT

Terverifikasi sempurna dan adil secara kontekstual.

Metodologi: Penilaian ditentukan melalui referensi silang catatan pemerintah resmi, organisasi pemeriksa fakta independen, dan dokumen sumber primer.