Benar

Penilaian: 8.0/10

Coalition
C0399

Klaim

“Menahan seseorang tanpa batas waktu berdasarkan informasi yang diperoleh melalui penyiksaan.”
Sumber Asli: Matthew Davis
Dianalisis: 30 Jan 2026

Sumber Asli

VERIFIKASI FAKTA

Klaim ini mengacu pada Sayed Abdellatif, seorang pencari suaka Mesir yang tiba di Australia dengan kapal pada Mei 2012 untuk mencari perlindungan dari penganiayaan [1].
The claim refers to Sayed Abdellatif, an Egyptian asylum seeker who arrived in Australia by boat in May 2012 seeking protection from persecution [1].
Fakta inti dari klaim ini adalah **BENAR dan diverifikasi melalui berbagai sumber yang otoritatif**: **Bukti yang Diperoleh Melalui Penyiksaan:** Pada tahun 1999, Abdellatif diadili secara in absentia di Kairo bersama 106 orang lainnya dalam apa yang kemudian dikenal sebagai sidang "Returnees from Albania" (Orang-orang yang Kembali dari Albania).
The core facts of the claim are **TRUE and verified through multiple authoritative sources**: **The Torture-Obtained Evidence:** In 1999, Abdellatif was tried in absentia in Cairo along with 106 others in what became known as the "Returnees from Albania" trial.
Dokumen-dokumen pemerintah Australia yang diperoleh melalui legislasi Kebebasan Informasi secara eksplisit menyatakan bahwa "bukti yang digunakan terhadap Tuan Abdellatif dalam sidang di Mesir diperoleh melalui penyiksaan" [1].
The Australian government documents obtained through Freedom of Information legislation explicitly state that "evidence used against Mr Abdellatif in the Egyptian trial was obtained under torture" [1].
Hal ini dikonfirmasi dalam makalah briefing yang dibaca dan ditandatangani oleh Menteri Imigrasi Peter Dutton pada April 2015 [1].
This was confirmed in a briefing paper read and signed by Immigration Minister Peter Dutton in April 2015 [1].
Makalah briefing tersebut menyatakan: "Terjemahan dokumen pengadilan militer tertinggi dan pernyataan tertulis dari saksi-saksi menunjukkan bahwa bukti yang digunakan terhadap Tuan Abdellatif dalam sidang di Mesir diperoleh melalui penyiksaan" [1].
The briefing states: "Translations of supreme military court documents and signed statements from witnesses indicate that the evidence used against Mr Abdellatif in the Egyptian trial was obtained under torture" [1].
Penyelidikan independen The Guardian selama tiga tahun mengonfirmasi bahwa sisa vonis Abdellatif atas "keanggotaan dalam kelompok teroris" dan "penyediaan dokumen perjalanan palsu" sepenuhnya bergantung pada bukti yang diperoleh melalui penyiksaan berat, termasuk sengatan listrik [1]. **Penahanan Tanpa Batas Waktu:** Meskipun tiba di Australia dan permohonan suakanya dinilai memiliki "kasus yang kuat untuk perlindungan berdasarkan 'ketakutan yang beralasan akan penganiayaan'" [1], Abdellatif ditahan dalam tahanan imigrasi tanpa batas waktu.
The Guardian's independent investigation over three years confirmed that Abdellatif's remaining convictions for "membership of a terrorist group" and "providing forged travel documents" relied entirely on evidence obtained under severe torture, including electric shocks [1]. **The Indefinite Detention:** Despite arriving in Australia and having his refugee application assessed as having a "prima facie case for protection on the basis of a 'well-founded fear of persecution'" [1], Abdellatif was held in immigration detention indefinitely.
Pada saat artikel The Guardian November 2016 diterbitkan, ia telah ditahan selama 1.643 hari (4,5 tahun) tanpa dakwaan atau pengadilan di Australia [1].
At the time of the November 2016 Guardian article, he had been held for 1,643 days (4.5 years) without charge or trial in Australia [1].
Penahanan ini pada akhirnya berlangsung hampir 12 tahun hingga pembebasannya pada tahun 2024 [2]. **Pengetahuan Pemerintah:** Pemerintah telah mengetahui selama 18 bulan (sejak April 2015) bahwa vonis Abdellatif didasarkan pada bukti yang diperoleh melalui penyiksaan ketika artikel November 2016 diterbitkan, namun tetap melanjutkan penahanan tanpa batas waktunya tanpa dakwaan [1].
This detention ultimately lasted almost 12 years until his release in 2024 [2]. **Government Knowledge:** The government had known for 18 months (since April 2015) that Abdellatif's convictions were based on torture-obtained evidence when the November 2016 article was published, yet continued his indefinite detention without charge [1].
Menteri Imigrasi Peter Dutton secara pribadi membaca dan menandatangani makalah briefing yang mengonfirmasi bukti yang diperoleh melalui penyiksaan sementara Abdellatif tetap ditahan [1]. **Penilaian Keamanan ASIO:** Seluruh dasar penahanan Abdellatif adalah "penilaian keamanan yang merugikan" dari ASIO (Australian Security Intelligence Organisation/Organisasi Intelijen Keamanan Australia) berdasarkan sidang Mesir yang cacat [1].
Immigration Minister Peter Dutton personally read and signed briefing papers confirming the torture-obtained evidence while Abdellatif remained detained [1]. **ASIO Security Assessment:** The entire basis for Abdellatif's detention was an "adverse security assessment" from ASIO (Australian Security Intelligence Organisation) based on the flawed Egyptian trial [1].
Inspector General of Intelligence and Security (IGIS/Inspektur Jenderal Keamanan Intelijen) kemudian menemukan bahwa "Abdellatif tidak pernah dihukum atas tuduhan terkait terorisme, secara jelas menyatakan bahwa ia bukan ancaman bagi keamanan nasional, dan mengkritik agen-agen keamanan Australia" [1].
The Inspector General of Intelligence and Security (IGIS) later found that "Abdellatif had not been convicted of any terrorism-related charges, made clear he was not a threat to national security, and criticised Australia's security agencies" [1].
Pada Juli 2023, ASIO sendiri mengubah penilaiannya menjadi "non-prejudisial," yang berarti tidak lagi memiliki kekhawatiran tentangnya sebagai risiko keamanan [3]. ---
By July 2023, ASIO itself changed its assessment to "non-prejudicial," meaning it no longer had concerns about him as a security risk [3]. ---

Konteks yang Hilang

Meskipun klaim ini akurat secara faktual, konteks penting yang dihilangkan: **Masalah Interpol Red Notice:** Penahanan awal Abdellatif dipicu oleh Interpol red notice yang berisi informasi yang tidak akurat.
While the claim is factually accurate, important context is omitted: **The Interpol Red Notice Issue:** Abdellatif's initial detention was triggered by an Interpol red notice that contained inaccurate information.
Pemberitahuan tersebut secara keliru mencantumkan vonis atas pembunuhan, kepemilikan senjata api, dan pengrusakan properti yang tidak pernah menjadi bagian dari sidang Mesir yang sebenarnya [1].
The notice wrongly listed convictions for murder, firearms possession, and property destruction that were never part of his actual Egyptian trial [1].
Interpol menarik dakwaan-dakwaan yang keliru ini pada tahun 2018 setelah penyelidikan menemukannya palsu [1].
Interpol withdrew these erroneous charges in 2018 after investigations found them false [1].
Ini menunjukkan bahwa kekhawatiran keamanan awal didasarkan pada informasi yang salah, bukan bukti penyiksaan yang asli saja. **Pembenaran Pemerintah:** Meskipun pemerintah mengetahui tentang bukti yang diperoleh melalui penyiksaan, pihaknya berargumen bahwa Abdellatif masih dapat ditahan berdasarkan Migration Act (Undang-Undang Migrasi) pasal 36(1B), yang memungkinkan penolakan visa kepada siapa pun yang dinilai oleh ASIO sebagai risiko keamanan [1].
This demonstrates that initial security concerns were based on incorrect information, not the original torture-obtained evidence alone. **The Government's Justification:** While the government knew about the torture-obtained evidence, it argued that Abdellatif could still be detained under Migration Act section 36(1B), which allows refusal of visas to anyone assessed by ASIO as a security risk [1].
Pemerintah berusaha memberikan Temporary Protection Visa (Visa Perlindungan Sementara) kepada Abdellatif secara khusus sehingga dapat ditolak dan dengan demikian memberikan "dasar terkuat untuk melaksanakan pemulangan" [1].
The government attempted to provide Abdellatif with a Temporary Protection Visa specifically so it could be rejected and thus provide "the strongest basis for effecting removal" [1].
Hal ini mengungkapkan manuver birokrasi daripada keputusan penahanan yang lugas. **Posisi ASIO tentang Penilaian Ulang:** ASIO mempertahankan bahwa penilaian keamanan merugian sebelumnya tetap akurat, mencatat bahwa "penilaian mempertimbangkan ideologi dan kemampuan individu serta lingkungan keamanan yang berlaku" [3].
This reveals bureaucratic maneuvering rather than a straightforward detention decision. **ASIO's Position on Reassessments:** ASIO maintained that its earlier adverse security assessments remained accurate, noting that "assessments took into account the ideology and capability of the individual as well as the prevailing security environment" [3].
Ini menunjukkan ASIO percaya bahwa mereka membuat penilaian berdasarkan lebih dari sekadar bukti sidang Mesir, meskipun ASIO menolak mengomentari kasus-kasus individu [3]. **Dimensi Hukum Internasional:** Dewan Hak Asasi Manusia PBB (UN Human Rights Council) menyimpulkan bahwa penahanan Abdellatif adalah "pemberian kebebasan yang jelas tidak proporsional..." dan pelanggaran hukum internasional [1].
This suggests ASIO believed it was making assessments based on more than just the Egyptian trial evidence, though ASIO refused to comment on individual cases [3]. **The International Legal Dimension:** The UN Human Rights Council concluded Abdellatif's detention was "a clearly disproportionate... deprivation of liberty" and a breach of international law [1].
Komisi Hak Asasi Manusia Australia (Australian Human Rights Commission) menemukan penahanannya "arbitrary and unjustified" (arbitrer dan tidak berdasar) [1].
The Australian Human Rights Commission found his detention "arbitrary and unjustified" [1].
Temuan-temuan ini terjadi selama periode pemerintahan Koalisi dan di bawah pengawasan mereka. ---
These findings occurred during the Coalition government period and under their watch. ---

Penilaian Kredibilitas Sumber

**Artikel The Guardian:** The Guardian adalah organisasi berita arus utama yang dihormati secara internasional (didirikan 1821, berbasis di Inggris).
**The Guardian Article:** The Guardian is a mainstream, internationally respected news organization (founded 1821, UK-based).
Memiliki perspektif editorial center-left (tengah-kiri) tetapi dikenal karena jurnalisme investigasi dan fact-checking yang ketat.
It has a center-left editorial perspective but is known for rigorous fact-checking and investigative journalism.
Artikel tahun 2016 ini ditulis oleh Ben Doherty dan Sarah Malik.
The 2016 article was authored by Ben Doherty and Sarah Malik.
Artikel tersebut didasarkan pada: - Dokumen yang diperoleh melalui legislasi Kebebasan Informasi [1] - Makalah briefing resmi pemerintah yang ditandatangani oleh Menteri Imigrasi Peter Dutton [1] - Tiga tahun penyelidikan independen The Guardian [1] - Dokumen pengadilan dan catatan parlemen [1] Ini adalah sumber-sumber primer, bukan opini.
The article is based on: - Documents obtained through Freedom of Information legislation [1] - Official government briefing papers signed by Immigration Minister Peter Dutton [1] - Three years of independent Guardian investigation [1] - Court documents and parliamentary records [1] These are primary sources, not opinion.
Artikel tersebut mengandung banyak klaim faktual yang dapat diverifikasi dengan detail spesifik (tanggal, nama, referensi dokumen) yang dapat diverifikasi secara independen. **Konfirmasi:** Klaim-klaim dalam artikel The Guardian telah dikonfirmasi oleh: - SBS News (penyiar arus utama Australia) [3] - Beberapa artikel tindak lanjut The Guardian [1] - Referensi ke laporan resmi IGIS (Inspector General of Intelligence and Security) pemerintah [1] - Fakta-fakta yang dikonfirmasi tentang penilaian keamanan ASIO [3] **Potensi Bias:** The Guardian memang memiliki stance editorial left-of-center (tengah-kiri) dan secara umum kritis terhadap kebijakan penahanan pemerintah.
The article contains a wealth of verifiable factual claims with specific details (dates, names, document references) that can be independently verified. **Corroboration:** The claims in the Guardian article have been corroborated by: - SBS News (mainstream Australian broadcaster) [3] - Multiple Guardian follow-up articles [1] - References to official government IGIS (Inspector General of Intelligence and Security) reports [1] - Confirmed facts about ASIO security assessments [3] **Potential Bias:** The Guardian does have a left-of-center editorial stance and is critical of government detention policies generally.
Namun, klaim faktual spesifik tentang bukti yang diperoleh melalui penyiksaan didukung oleh dokumen-dokumen pemerintah yang diperoleh melalui FOI, bukan interpretasi.
However, the specific factual claims about torture-obtained evidence are backed by government documents obtained through FOI, not interpretation.
Narasi inti—bahwa pemerintah mengetahui bukti diperoleh melalui penyiksaan dan melanjutkan penahanan bagaimanapun—dibuktikan melalui dokumentasi resmi. ---
The core narrative—that government knew evidence was torture-obtained and continued detention anyway—is substantiated through official documentation. ---
⚖️

Perbandingan Labor

**Apakah Labor melakukan hal yang serupa?** Sejarah kebijakan penahanan pencari suaka Australia menunjukkan kedua partai besar telah menerapkan kerangka penahanan yang ketat, meskipun isu spesifik menahan seseorang berdasarkan bukti asing yang diperoleh melalui penyiksaan adalah berbeda: **Warisan Penahanan Labor (2007-2013):** Pemerintahan Labor di bawah Kevin Rudd dan Julia Gillard menerapkan penahanan lepas pantai (offshore detention) di Nauru dan Papua New Guinea, serta memperluas operasi penangkapan di laut [4].
**Did Labor do something similar?** The history of Australian asylum seeker detention policy shows both major parties have implemented restrictive detention frameworks, though the specific issue of detaining someone based on torture-obtained foreign evidence is distinct: **Labor's Detention Legacy (2007-2013):** The Labor government under Kevin Rudd and Julia Gillard implemented offshore detention on Nauru and Papua New Guinea, and expanded maritime interception operations [4].
Labor juga menggunakan penahanan sebagai pencegah kedatangan kapal [4].
Labor also used detention as a deterrent for boat arrivals [4].
Namun, isu spesifik seseorang ditahan tanpa batas waktu berdasarkan bukti yang diperoleh melalui penyiksaan dari negara lain tampaknya tidak menjadi kebijakan pemerintahan Labor dengan cara yang sama. **Pola yang Lebih Luas:** Kedua partai besar telah menggunakan penilaian keamanan nasional yang luas dan penentuan keamanan merugian ASIO untuk menahan atau menolak visa pencari suaka.
However, the specific issue of someone being detained indefinitely based on torture-obtained evidence from another country does not appear to have been a Labor government policy in the same way. **The Broader Pattern:** Both major parties have used broad national security assessments and ASIO adverse security determinations to detain or refuse visas to asylum seekers.
Ini tidak unik untuk Koalisi, meskipun kasus Abdellatif terjadi di bawah pengawasan Koalisi (2013-2016 dan seterusnya). **Perbedaan Utama:** Apa yang membedakan kasus Abdellatif bukan sekadar penahanan pencari suaka (yang mana kedua partai mendukung kerangkanya), tetapi skenario spesifik penahanan tanpa batas waktu yang berlanjut meskipun pemerintah mengakui bahwa satu-satunya bukti terhadap orang tersebut diperoleh melalui penyiksaan di negara asing yang ia lari.
This is not unique to the Coalition, though the Abdellatif case occurred under Coalition watch (2013-2016 and beyond). **Key Difference:** What distinguishes the Abdellatif case is not merely detention of asylum seekers (which both parties support frameworks for), but the specific scenario of indefinite detention continuing despite government acknowledgment that the only evidence against the person was obtained by torture in a foreign country that he fled from.
Klaim ini secara spesifik tentang menahan seseorang berdasarkan bukti yang diperoleh melalui penyiksaan, yang memiliki status hukum dan etika yang berbeda daripada penahanan berdasarkan penilaian keamanan yang berasal dari faktor lain. **Respons Labor:** Ketika Labor kembali berkuasa pada tahun 2022, Abdellatif dibebaskan pada April 2024 setelah hampir 12 tahun penahanan [2].
The claim is specifically about detaining someone based on torture-obtained evidence, which has a different legal and ethical status than detention based on security assessments derived from other factors. **Labor's Response:** When Labor returned to government in 2022, Abdellatif was released in April 2024 after nearly 12 years of detention [2].
Ini menunjukkan Labor bersatu mengakhiri apa yang mereka anggap sebagai penahanan yang tidak adil, meskipun dibutuhkan waktu 12 tahun dan beberapa pergantian pemerintahan untuk mencapai hasil ini. ---
This suggests Labor was willing to end what it viewed as an unjust detention, though it took 12 years and multiple government changes to achieve this outcome. ---
🌐

Perspektif Seimbang

**Kritik:** Klaim ini secara akurat mencerminkan kegagalan serius dalam sistem penahanan imigrasi Australia.
**The Criticism:** The claim accurately reflects a serious failure of Australia's immigration detention system.
Pemerintah: 1.
The government: 1.
Menahan seseorang selama hampir 12 tahun tanpa dakwaan [2] 2.
Detained someone for nearly 12 years without charge [2] 2.
Mengetahui bukti asli terhadapnya diperoleh melalui penyiksaan [1] 3.
Knew the original evidence against him was torture-obtained [1] 3.
Melanjutkan penahanan meskipun memiliki status pencari suaka dengan klaim pengungsi "prima facie" [1] 4.
Continued detention despite an asylum seeker status with a "prima facie" refugee claim [1] 4.
Menggunakan mekanisme birokratis (strategi penolakan Temporary Protection Visa) untuk mempertahankan penahanan meskipun pemerintah mengetahui kasus asli cacat [1] 5.
Used bureaucratic mechanisms (Temporary Protection Visa rejection strategy) to maintain detention despite government knowing the original case was flawed [1] 5.
Mengabaikan rekomendasi dari empat menteri terpisah untuk membiarkannya mengajukan visa perlindungan [1] Ini mewakili kekhawatiran hak asasi manusia yang signifikan.
Ignored recommendations from four separate ministers to allow him to apply for protection visas [1] This represents a significant human rights concern.
Dewan Hak Asasi Manusia PBB secara eksplisit menemukan penahanan ilegal dan melanggar hukum internasional [1].
The UN Human Rights Council explicitly found the detention illegal and breached international law [1].
Inspector General of Intelligence and Security (IGIS) pemerintah sendiri mengkritik "kurangnya koordinasi dan... urgensi" [1]. **Perspektif Pemerintah:** Pemerintahan Koalisi akan berargumen: 1.
The government's own Inspector General of Intelligence and Security criticized the "lack of coordination and... urgency" [1]. **The Government's Perspective:** The Coalition government would have argued: 1.
Penilaian keamanan merugian ASIO didasarkan pada lebih dari sekadar vonis Mesir—itu mempertimbangkan "ideologi dan kemampuan" [3] 2.
ASIO's adverse security assessment was based on more than just the Egyptian conviction—it considered "ideology and capability" [3] 2.
Meskipun dengan bukti penyiksaan yang didiskreditkan, ASIO mempertahankan kekhawatiran keamanan yang ada 3.
Even with tortured evidence discredited, ASIO maintained security concerns existed 3.
Interpol red notice telah memicu penahanan awal, dan proses birokratis membutuhkan waktu untuk diselesaikan 4.
The Interpol red notice had triggered initial detention, and bureaucratic processes took time to resolve 4.
Migration Act (Undang-Undang Migrasi) pasal 36(1B) menyediakan otoritas hukum untuk menolak visa berdasarkan penilaian keamanan ASIO 5.
Migration Act section 36(1B) provides legal authority to refuse visas based on ASIO security assessments 5.
Pemerintah berusaha menyediakan jalur ke Temporary Protection Visa, yang Abdellatif tolak [1] **Kompleksitas:** Kasus ini menyoroti ketegangan yang nyata dalam hukum keamanan nasional: Bagaimana seharusnya pemerintah memperlakukan seseorang dengan vonis asing yang dipertanyakan ketika agen keamanan menyatakan kekhawatiran?
The government attempted to provide a pathway to a Temporary Protection Visa, which Abdellatif declined [1] **The Complexity:** This case highlights a genuine tension in national security law: How should a government treat someone with questionable foreign convictions when security agencies express concerns?
Meskipun penilaian awal ASIO tampaknya didasarkan sebagian pada bukti yang cacat, pada saat pejabat pemerintah mengakui isu penyiksaan, inersia birokratis dan penilaian keamanan (bagaimanapun cacatnya) membuat proses terus bergerak menuju penahanan berlanjut daripada pembebasan. **Konteks Komparatif:** Kedua partai besar mendukung kerangka penahanan untuk pencari suaka dengan kekhawatiran keamanan.
While ASIO's initial assessments appear to have been based partly on flawed evidence, by the time government officials acknowledged the torture issue, bureaucratic inertia and security assessments (however flawed) kept the process moving toward continued detention rather than release. **Comparative Context:** Both major parties support detention frameworks for asylum seekers with security concerns.
Fitur yang membedakan kasus ini bukan penahanan itu sendiri tetapi penahanan selama hampir 12 tahun berdasarkan bukti yang pemerintah akui diperoleh melalui penyiksaan, tanpa jalur hukum yang jelas untuk penyelesaian.
The distinguishing feature of this case is not detention itself but detention for nearly 12 years based on evidence the government acknowledged was torture-obtained, with no clear legal pathway to resolution.
Ini tampaknya lebih merupakan kegagalan kapasitas sistem penahanan untuk memperbaiki ketidakadilan daripada pilihan politik partisian untuk secara spesifik menahan korban penyiksaan. ---
This appears to be more a failure of the detention system's capacity to correct injustices than a partisan political choice to detain torture-victims specifically. ---

BENAR

8.0

/ 10

Klaim inti ini akurat secara faktual dan didokumentasikan dengan baik.
The core claim is factually accurate and well-documented.
Pemerintah Australia memang menahan Sayed Abdellatif tanpa batas waktu, dan melakukannya berdasarkan secara substansial pada informasi (vonis Mesirnya) yang pejabat pemerintah akui diperoleh melalui penyiksaan.
The Australian government did indefinitely detain Sayed Abdellatif, and it did so based substantially on information (his Egyptian conviction) that government officials acknowledged was obtained through torture.
Dokumen-dokumen pemerintah yang ditandatangani oleh Menteri Imigrasi Peter Dutton mengonfirmasi pengetahuan ini [1].
Government documents signed by Immigration Minister Peter Dutton confirm this knowledge [1].
Penahanan berlangsung hampir 12 tahun tanpa dakwaan [2].
The detention lasted nearly 12 years without charge [2].
Klaim ini dapat dikritik sebagai sedikit tidak lengkap dalam artian ASIO juga mengklaim menilai risiko keamanan berdasarkan faktor yang lebih luas daripada sekadar bukti penyiksaan, tetapi alasan utama penahanan tetap adalah vonis yang didasarkan pada penyiksaan.
The claim could be criticized as slightly incomplete in that ASIO also claimed to assess security risk based on broader factors than just the tortured evidence, but the primary reason for detention remained the conviction based on torture.
Inspektur Jenderal pemerintah sendiri mengkritik penanganan kasus ini, dan PBB menemukan penahanan melanggar hukum internasional [1]. ---
The government's own inspector general criticized the handling of the case, and the UN found the detention violated international law [1]. ---

📚 SUMBER DAN KUTIPAN (4)

  1. 1
    Australian government concedes evidence against asylum seeker was obtained by torture

    Australian government concedes evidence against asylum seeker was obtained by torture

    Exclusive: Sayed Abdellatif is still held in detention in Sydney even though immigration minister Peter Dutton was briefed 18 months ago that evidence used in Egypt to convict him was discredited

    the Guardian
  2. 2
    Refugee Sayed Abdellatif freed after almost 12 years in Australian detention

    Refugee Sayed Abdellatif freed after almost 12 years in Australian detention

    Sayed Abdellatif, an Egyptian refugee, has been released from Australia's immigration detention after nearly 12 years.

    Migrant Affairs
  3. 3
    Egyptian asylum seeker Sayed Abdellatif asks why he's still detained after High Court ruling

    Egyptian asylum seeker Sayed Abdellatif asks why he's still detained after High Court ruling

    Sayed Abdullatif, an Egyptian asylum seeker detained for more than a decade, hoped a recent landmark High Court ruling would secure his freedom, but he remains behind bars.

    SBS News
  4. 4
    sbs.com.au

    Labor government offshore detention Nauru Papua New Guinea asylum policy

    Sbs Com

    Original link no longer available

Metodologi Skala Penilaian

1-3: SALAH

Secara faktual salah atau fabrikasi jahat.

4-6: SEBAGIAN

Ada kebenaran tetapi konteks hilang atau menyimpang.

7-9: SEBAGIAN BESAR BENAR

Masalah teknis kecil atau masalah redaksi.

10: AKURAT

Terverifikasi sempurna dan adil secara kontekstual.

Metodologi: Penilaian ditentukan melalui referensi silang catatan pemerintah resmi, organisasi pemeriksa fakta independen, dan dokumen sumber primer.