Sebagian Benar

Penilaian: 6.5/10

Coalition
C0286

Klaim

“Menghabiskan $400.000 untuk membantu melatih militer Myanmar, yang pada saat itu diketahui bersalah atas genosida yang sedang berlangsung terhadap orang Rohingya, dan kemudian bertanggung jawab atas kudeta literal untuk menggulingkan pemerintahan mereka, termasuk menembak dan membunuh ratusan pengunjuk rasa anti-kudeta yang damai.”
Sumber Asli: Matthew Davis

Sumber Asli

VERIFIKASI FAKTA

### Klaim Inti: Apakah Australia Menghabiskan $400.000?
### Core Claim: Did Australia Spend $400,000?
**Ya, terkonfirmasi.** Angkatan Bersenjata Australia mengalokasikan sekitar **$398.000-$400.000** untuk bantuan pelatihan militer kepada Myanmar pada 2017-18, sebagaimana diungkapkan dalam sidang estimasi Pertahanan Senat [1][2].
**Yes, confirmed.** The Australian Defence Force allocated approximately **$398,000-$400,000** for military training assistance to Myanmar in 2017-18, as disclosed in Senate Defence estimates hearings [1][2].
Lowy Institute dan berbagai sumber berita mengonfirmasi jumlah dolar spesifik ini disediakan melalui Program Kerja Sama Pertahanan (DCP) [3].
The Lowy Institute and multiple news sources confirm this specific dollar amount was provided through the Defence Cooperation Program (DCP) [3].
### Linimasa dan Konten Pelatihan
### Timeline and Training Content
Pelatihan terjadi selama **2017-2018**, dalam konteks Program Kerja Sama Pertahanan Australia yang diaktifkan kembali dengan Myanmar pada 2013 menyusul transisi demokrasi Myanmar [1].
The training occurred during **2017-2018**, within the context of Australia's Defence Cooperation Program re-established with Myanmar in 2013 following Myanmar's democratic transition [1].
Program pelatihan meliputi: - Pelatihan bahasa Inggris untuk perwira militer [2] - Pelatihan bantuan kemanusiaan dan penanggulangan bencana (HADR) [3] - Pembangunan kapasitas operasi pemeliharaan perdamaian [1] - Kursus pengembangan profesional [4] Ini bersifat defensif dan diarahkan sebagai pembangunan kapasitas daripada pelatihan tempur [2].
The training programs included: - English-language training for military officers [2] - Humanitarian assistance and disaster relief (HADR) training [3] - Peacekeeping operations capacity building [1] - Professional development courses [4] These were defensive in nature and framed as capacity-building rather than combat training [2].
### Penentuan Waktu Krisis Rohingya
### Rohingya Crisis Timing
Asersi klaim bahwa Myanmar "diketahui pada saat itu bersalah atas genosida yang sedang berlangsung" adalah **secara substansial akurat**.
The claim's assertion that Myanmar was "known at the time to be guilty of ongoing genocide" is **substantially accurate**.
Ketika Australia memberikan pelatihan $400.000 pada 2017-18: - Sekitar **582.000-740.000 pengungsi Rohingya melarikan diri dari Myanmar** ke Bangladesh mulai Agustus 2017 [3] - Misi Fakta-Menemukan PBB mencirikan ini sebagai **"kasus teks pembersihan etnis"** [5] - Misi PBB yang sama mendokumentasikan kejahatan terhadap kemanusiaan dan kejahatan perang oleh pasukan keamanan Myanmar [5] - Misi tersebut mengidentifikasi bukti yang cukup untuk kemungkinan penuntutan genosida terhadap enam komandan militer senior [5] Australia secara eksplisit menyadari tuduhan ini.
When Australia provided the $400,000 training in 2017-18: - Approximately **582,000-740,000 Rohingya refugees fled Myanmar** to Bangladesh starting in August 2017 [3] - The UN Fact-Finding Mission characterized this as a **"textbook case of ethnic cleansing"** [5] - The same UN mission documented crimes against humanity and war crimes by Myanmar security forces [5] - The mission identified sufficient evidence for potential genocide prosecutions against six senior military commanders [5] Australia was explicitly aware of these accusations.
Debat parlemen pada Mei 2018 mengutip kesadaran akan tuduhan pembersihan etnis, namun Australia melanjutkan program pelatihan [6].
Parliamentary debate in May 2018 cited awareness of ethnic cleansing accusations, yet Australia continued the training program [6].
### Kudeta Myanmar 2021 dan Seusahnya
### 2021 Myanmar Coup and Aftermath
Klaim dengan benar merujuk pada **kudeta militer Myanmar 1 Februari 2021** [7].
The claim correctly references Myanmar's **February 1, 2021 military coup** [7].
Kudeta mengakibatkan: - Penahanan segera terhadap pemimpin terpilih secara demokratis Aung San Suu Kyi dan pejabat pemerintahan [7] - **Penembakan dokumentasi terhadap pengunjuk rasa anti-kudeta** - Pasukan keamanan membunuh lebih dari 1.400 orang dalam tahun pertama menyusul kudeta [8] - Pengecaman internasional dan penangguhan kerja sama militer asing [7] Australia **segera menangguhkan semua kerja sama militer** dengan Myanmar menyusul kudeta, termasuk Program Kerja Sama Pertahanan dan pelatihan bahasa Inggris [7][9].
The coup resulted in: - Immediate detention of democratically elected leader Aung San Suu Kyi and government officials [7] - **Documented shootings of anti-coup protesters** - Security forces killed over 1,400 people in the first year following the coup [8] - International condemnation and suspension of foreign military cooperation [7] Australia **immediately suspended all military cooperation** with Myanmar following the coup, including the Defence Cooperation Program and English-language training [7][9].

Konteks yang Hilang

### 1. Perbandingan Keterlibatan Militer Koalisi vs. Labor
### 1. Coalition vs. Labor Military Engagement
Yang penting, **pemerintahan Labor (2007-2013) tidak terlibat dalam kerja sama militer dengan Myanmar** selama masa kekuasaannya.
Importantly, the **Labor government (2007-2013) did not engage in military cooperation with Myanmar** during its period in power.
Keterlibatan militer Australia dengan Myanmar **diaktifkan kembali oleh pemerintahan Koalisi pada 2013** sebagai bagian dari normalisasi hubungan menyusul transisi demokrasi Myanmar [1].
Australia's military engagement with Myanmar was **re-established by the Coalition government in 2013** as part of normalizing relations following Myanmar's democratic transition [1].
Pemfrasan klaim mengindikasikan ini sebagai kelanjutan, namun ini dimulai oleh Koalisi.
The claim's framing implies this was a continuation, but it was initiated by the Coalition.
### 2. Keterlibatan Militer Negara Lain
### 2. Other Countries' Military Engagement
Australia **tidak sendirian** dalam memelihara pelatihan militer dengan Myanmar selama 2017-18.
Australia was **not alone** in maintaining military training with Myanmar during 2017-18.
Beberapa negara melanjutkan kerja sama militer: - **India** melaksanakan latihan militer bilateral (IMBAX-2017) pada November 2017 yang berfokus pada operasi pemeliharaan perdamaian PBB [10] - **Rusia** memelihara perjanjian kerja sama pertahanan yang ditandatangani pada 2016 [11] - **Israel** memiliki nota kerja sama militer yang mencakup pelatihan dan intelijen [11] - **Beberapa negara ASEAN** melanjutkan pertukaran militer [10] Kritik berlaku untuk kebijakan militer internasional secara lebih luas, tidak secara unik untuk pendekatan Australia [10].
Multiple countries continued military cooperation: - **India** conducted bilateral military exercises (IMBAX-2017) in November 2017 focused on UN peacekeeping operations [10] - **Russia** maintained defense cooperation agreements signed in 2016 [11] - **Israel** had military cooperation memorandum covering training and intelligence [11] - **Multiple ASEAN countries** continued military exchanges [10] The criticism applies to international military policy more broadly, not uniquely to Australia's approach [10].
### 3. Rasionalitas Kebijakan Koalisi
### 3. Coalition's Policy Rationale
Rasionalitas yang dinyatakan Koalisi untuk keterlibatan yang dilanjutkan adalah **pembangunan kapasitas dan profesionalisasi** militer Myanmar dengan harapan bahwa keterlibatan bertahap akan "memanusiakan" militer dan memfasilitasi hubungan sipil-militer [1].
The Coalition's stated rationale for continued engagement was **capacity-building and professionalization** of the Myanmar military with the hope that incremental engagement would "humanize" the military and facilitate civil-military relations [1].
Mantan Menteri Luar Negeri Alexander Downer berpendapat untuk memelihara "saluran diskusi tentang isu-isu yang menjadi perhatian" [1].
Former Foreign Minister Alexander Downer argued for maintaining "channels of discussion on issues of concern" [1].
Meskipun rasionalitas ini terbukti salah arah mengingat kudeta 2021, ini mewakili pilihan kebijakan yang berbeda: keterlibatan melalui dialog daripada isolasi [1].
While this rationale proved misguided given the 2021 coup, it represented a distinct policy choice: engagement through dialogue rather than isolation [1].
### 4. Respons Pasca-Kudeta
### 4. Post-Coup Response
Setelah kudeta Februari 2021, respons Australia cepat dan komprehensif: - Segera mengecam kudeta [7] - Menangguhkan semua kerja sama militer dan keterlibatan atase pertahanan [7] - Menyerukan komunitas internasional untuk menghentikan penjualan senjata ke Myanmar [9] - Mengalihkan bantuan pembangunan ke dukungan kemanusiaan dan keamanan manusia [9] Ini kontras dengan kelanjutan pelatihan pada 2017-18 dan menunjukkan penilaian ulang kebijakan menyusul keparahan kudeta.
After the February 2021 coup, Australia's response was swift and comprehensive: - Immediately condemned the coup [7] - Suspended all military cooperation and defence attaché engagement [7] - Called on international community to cease arms sales to Myanmar [9] - Redirected development assistance to humanitarian and human security support [9] This contrasts with the continuation of training in 2017-18 and demonstrates policy reassessment following the coup's severity.
### 5. Sifat Non-Tempur dari Pelatihan
### 5. Non-Combat Nature of Training
Pelatihan secara eksplisit dibatasi pada konten kemanusiaan, penanggulangan bencana, dan pengembangan profesional daripada operasi tempur [1][2][3].
The training was explicitly limited to humanitarian, peacekeeping, and professional development content rather than combat operations [1][2][3].
Meskipun pembedaan ini tidak membebaskan masalah moral melatih pasukan yang melakukan kekejaman, secara faktual penting bahwa pelatihan tersebut bukan penggunaan senjata atau instruksi militer taktis [1].
While this distinction doesn't absolve the moral problem of training forces committing atrocities, it's factually important that the training wasn't weapons use or tactical military instruction [1].

Penilaian Kredibilitas Sumber

### Sumber Asli yang Disediakan
### Original Sources Provided
**The Guardian (Guardian Australia):** [1] Organisasi berita utama Australia/Inggris dengan reputasi kuat untuk pelaporan investigatif.
**The Guardian (Guardian Australia):** [1] Mainstream Australian/UK news organization with strong reputation for investigative reporting.
Dikenal karena perspektif condong ke kiri tetapi secara faktual ketat.
Known for left-leaning perspective but factually rigorous.
Tidak ada bias yang jelas dalam pelaporan fakta tentang jumlah atau tanggal pelatihan militer. [12] **The Jakarta Post & CNN:** Keduanya adalah organisasi berita arus utama.
No obvious bias in reporting facts about military training amounts or dates. [12] **The Jakarta Post & CNN:** Both are mainstream news organizations.
Liputan CNN tentang militer dan kudeta Myanmar secara faktual akurat dan ber-sumber baik.
CNN coverage of Myanmar military and coup has been factually accurate and well-sourced.
The Jakarta Post adalah organisasi berita Indonesia dengan keahlian regional. [12] **Penilaian:** Sumber asli adalah organisasi berita arus utama yang kredibel.
The Jakarta Post is an Indonesian news organization with regional expertise. [12] **Assessment:** The original sources are credible mainstream news organizations.
Meskipun bersumber dari kompilasi yang selaras dengan Labor, sumber-sumber yang mendasarinya bukan outlet advokasi partisan.
While sourced from a Labor-aligned compilation, the underlying sources are not partisan advocacy outlets.
⚖️

Perbandingan Labor

### Apakah Pemerintahan Labor Menyediakan Pelatihan Militer untuk Myanmar?
### Did Labor Government Provide Military Training to Myanmar?
**Tidak ada bukti langsung yang ditemukan.** Pemerintahan Labor (Rudd-Gillard, 2007-2013) beroperasi selama kediktatoran militer Myanmar dan tidak ada bukti program kerja sama militer [1][3].
**No direct evidence found.** Labor government (Rudd-Gillard, 2007-2013) operated during Myanmar's military dictatorship and there is no evidence of military cooperation programs [1][3].
Keterlibatan pertahanan Australia dengan Myanmar **diaktifkan kembali oleh Koalisi pada 2013** menyusul reformasi demokrasi Myanmar 2011 [1].
Australia's defense engagement with Myanmar was **re-established by the Coalition in 2013** following Myanmar's 2011 democratic reforms [1].
Ini adalah pilihan kebijakan Koalisi, bukan preseden Labor.
This was a Coalition policy choice, not a Labor precedent.
### Rekor Labor yang Lebih Luas tentang Kerja sama Militer
### Broader Labor Record on Military Cooperation
Pemerintahan Labor secara historis memelihara kerja sama militer dengan berbagai negara meskipun ada kekhawatiran hak asasi manusia: - Hubungan militer dengan mitra strategis terlepas dari rekor hak asasi manusia - Pendekatan keterlibatan-melalui-dialog serupa dengan negara-negara non-demokratis lainnya Namun, tidak ada padanan spesifik era Labor untuk program pelatihan militer Myanmar yang didokumentasikan. **Temuan:** Program pelatihan militer Myanmar adalah inisiatif Koalisi (pasca-2013), bukan kebijakan Labor yang dilanjutkan.
Labor governments have historically maintained military cooperation with various countries despite human rights concerns: - Military relationships with strategic partners regardless of human rights records - Similar engagement-through-dialogue approaches with other non-democratic countries However, no specific Labor-era equivalent to the Myanmar military training program is documented. **Finding:** The Myanmar military training program was a Coalition initiative (post-2013), not a Labor policy being continued.
Ini mewakili pilihan kebijakan yang dibuat oleh pemerintahan Koalisi.
This represents a policy choice made by the Coalition government.
🌐

Perspektif Seimbang

### Kasus Melawan Program Pelatihan
### The Case Against the Training Program
Kritik klaim secara substansial dibenarkan: 1. **Penentuan waktu bermasalah secara etis.** Australia melatih militer Myanmar sementara militer yang sama sedang melakukan pembersihan etnis yang didokumentasikan terhadap Rohingya [3][5][6].
The claim's criticisms are substantively justified: 1. **Timing was ethically problematic.** Australia was training Myanmar's military while that same military was conducting documented ethnic cleansing against the Rohingya [3][5][6].
Human Rights Watch dengan benar mencatat bahwa Australia "menopang kekuatan yang sedang melaksanakan kampanye kekerasan yang kejam" [4]. 2. **Kebijakan tidak efektif.** Daripada memoderasi militer melalui keterlibatan, kudeta 2021 menunjukkan bahwa militer tetap rentan terhadap kudeta dan bersedia menggunakan kekuatan mematikan terhadap warga sipil [7][8].
Human Rights Watch correctly noted that Australia was "propping up a force that is carrying out a vicious campaign of violence" [4]. 2. **The policy was ineffective.** Rather than moderating the military through engagement, the 2021 coup demonstrated that the military remained coup-prone and willing to use lethal force against civilians [7][8].
Rasionalitas "keterlibatan melalui dialog" terbukti secara fundamental cacat [1]. 3. **Kemunafikan terlihat.** Australia mengecam pembersihan etnis sementara secara bersamaan melatih pelakunya.
The "engagement through dialogue" rationale proved fundamentally flawed [1]. 3. **Hypocrisy was evident.** Australia condemned the ethnic cleansing while simultaneously training the perpetrators.
Kontradiksi ini ditangkap dalam tajuk berita seperti "Bagaimana TF Australia Mengecam Situasi Myanmar Dengan Wajah Datar?" [4]
This contradiction was captured in media headlines like "How TF Is Australia Condemning The Myanmar Situation With A Straight Face?" [4]
### Perspektif Koalisi
### The Coalition's Perspective
Pemerintahan Koalisi membela program tersebut atas beberapa dasar: 1. **Rasionalitas pembangunan kapasitas:** Pemerintah percaya bahwa pelatihan dan keterlibatan secara bertahap akan memprofesionalkan militer dan meningkatkan hubungan sipil-militer [1].
The Coalition government defended the program on several grounds: 1. **Capacity-building rationale:** The government believed that training and engagement would gradually professionalize the military and improve civil-military relations [1].
Ini adalah penilaian strategis yang tulus, meskipun akhirnya salah. 2. **Sifat non-tempur:** Pelatihan secara eksplisit berfokus pada kemanusiaan, penanggulangan bencana, dan pemeliharaan perdamaian, bukan pelatihan tempur [1][2].
This was a genuine, if ultimately incorrect, strategic assessment. 2. **Non-combat nature:** The training was explicitly humanitarian, disaster relief, and peacekeeping-focused, not combat training [1][2].
Pemerintah berpendapat pembedaan ini penting secara moral. 3. **Pendekatan internasional komparatif:** Beberapa negara (India, Rusia, Israel, ASEAN) memelihara hubungan militer dengan Myanmar [10].
The government argued this distinction mattered morally. 3. **Comparative international approach:** Multiple countries (India, Russia, Israel, ASEAN) maintained military relationships with Myanmar [10].
Australia mengikuti praktik internasional, meskipun bukan pendekatan UK/AS untuk menangguhkan hubungan [1]. 4. **Saluran strategis:** Memelihara hubungan mempertahankan saluran intelijen dan komunikasi dengan kepemimpinan militer Myanmar, yang pejabat percaya bernilai untuk mengatasi isu transnasional [1].
Australia was following international practice, though not the UK/US approach of suspending ties [1]. 4. **Strategic channels:** Maintaining the relationship preserved intelligence and communication channels with Myanmar's military leadership, which officials believed were valuable for addressing transnational issues [1].
### Penilaian Kritis
### Critical Assessment
Bukti menunjukkan pendekatan Koalisi **berniat baik tetapi naif secara strategis**.
The evidence suggests the Coalition's approach was **well-intentioned but strategically naive**.
Keyakinan bahwa pelatihan dan dialog akan memoderasi militer Myanmar terbukti salah.
The belief that training and dialogue would moderate Myanmar's military proved incorrect.
Namun: - Keputusan mencerminkan perbedaan kebijakan yang tulus (keterlibatan vs. isolasi), bukan kebencian - Pelatihan memang terbatas pada kapasitas non-tempur - Negara lain mengejar pendekatan keterlibatan serupa - Respons Australia pasca-kudeta sesuai dan cepat
However: - The decision reflected a genuine policy disagreement (engagement vs. isolation), not malice - The training was indeed limited to non-combat capacities - Other countries pursued similar engagement approaches - Australia's post-coup response was appropriate and swift

SEBAGIAN BENAR

6.5

/ 10

Inti faktual klaim adalah akurat: Australia memang menghabiskan sekitar $400.000 untuk melatih militer Myanmar pada 2017-18, selama periode ketika militer didokumentasikan oleh PBB sebagai melakukan pembersihan etnis terhadap Rohingya [1][5].
The factual core of the claim is accurate: Australia did spend approximately $400,000 to train Myanmar's military in 2017-18, during a period when the military was documented by the UN as committing ethnic cleansing against the Rohingya [1][5].
Militer Myanmar kemudian melakukan kudeta pada 2021 di mana pasukan keamanan membunuh ratusan pengunjuk rasa anti-kudeta [7][8].
The Myanmar military did later conduct a coup in 2021 in which security forces killed hundreds of anti-coup protesters [7][8].
Namun, klaim memerlukan koreksi kontekstual yang kritis: 1. **Pelatihan bersifat non-tempur**, berfokus pada bantuan kemanusiaan, penanggulangan bencana, dan pemeliharaan perdamaian [1][2], bukan dukungan langsung untuk operasi pembersihan etnis. 2. **Rasionalitas kebijakan adalah pembangunan kapasitas, bukan dukungan untuk kekejaman** [1].
However, the claim requires critical contextual corrections: 1. **The training was non-combat in nature**, focused on humanitarian assistance, disaster relief, and peacekeeping [1][2], not direct support for ethnic cleansing operations. 2. **The policy rationale was capacity-building, not support for atrocities** [1].
Meskipun rasionalitas ini terbukti salah arah, ini adalah pilihan strategis yang tulus untuk keterlibatan daripada dukungan yang sadar untuk genosida. 3. **Kebijakan tidak unik bagi Australia** - beberapa negara termasuk India, Rusia, dan Israel memelihara kerja sama militer dengan Myanmar selama periode yang sama [10]. 4. **Australia segera menangguhkan kerja sama setelah kudeta**, menunjukkan penilaian ulang kebijakan [7][9].
While this rationale proved misguided, it was a genuine strategic choice for engagement rather than conscious support for genocide. 3. **The policy was not unique to Australia** - multiple countries including India, Russia, and Israel maintained military cooperation with Myanmar during the same period [10]. 4. **Australia immediately suspended cooperation after the coup**, demonstrating policy reassessment [7][9].
Klaim secara akurat mengidentifikasi keputusan yang bermasalah secara etis tetapi terlalu menyederhanakan rasionalitas yang dinyatakan pemerintah dan konteks internasional.
The claim accurately identifies an ethically problematic decision but oversimplifies the government's stated rationale and international context.
Pernyataan yang sepenuhnya akurat akan berbunyi: "Australia menyediakan $400.000 dalam pelatihan militer non-tempur kepada militer Myanmar pada 2017-18 meskipun adanya tuduhan pembersihan etnis yang didokumentasikan terhadap militer tersebut, mencerminkan strategi keterlibatan-melalui-dialog yang salah arah yang terbukti tidak efektif ketika militer melakukan kudeta pada 2021."
A fully accurate statement would be: "Australia provided $400,000 in non-combat military training to Myanmar's military in 2017-18 despite documented ethnic cleansing allegations against that military, reflecting a misguided engagement-through-dialogue strategy that proved ineffective when the military conducted a coup in 2021."

📚 SUMBER DAN KUTIPAN (12)

  1. 1
    Myanmar and Australia: A partnership paved with good intentions

    Myanmar and Australia: A partnership paved with good intentions

    Australia’s rationale for engagement has long been a hope to moderate the excesses of the regime. It does not seem to have listened.

    Lowyinstitute
  2. 2
    Australia keeps military ties with Myanmar

    Australia keeps military ties with Myanmar

    The Australian military continues to provide training to the Myanmar defence force despite ongoing violence against Rohingya Muslims.

    SBS News
  3. 3
    Australia to train Myanmar military despite ethnic cleansing accusations

    Australia to train Myanmar military despite ethnic cleansing accusations

    Defence department spend continues despite claims treatment of Rohingya bears ‘hallmarks of a genocide’

    the Guardian
  4. 4
    How TF Is Australia Condemning The Myanmar Situation With A Straight Face? Look At Our Record

    How TF Is Australia Condemning The Myanmar Situation With A Straight Face? Look At Our Record

    Australia has condemned the Myanmar military coup, but has seemingly forgotten our ties through the military and Adani mine funding.

    PEDESTRIAN.TV
  5. 5
    ohchr.org

    Myanmar: the facts behind the military action - United Nations Fact-Finding Mission

    Ohchr

  6. 6
    openaustralia.org.au

    Rohingya People: 10 May 2018: Senate debates

    Making parliament easy.

    Openaustralia Org
  7. 7
    dfat.gov.au

    Australia's response to the Myanmar military coup

    Dfat Gov

  8. 8
    amnesty.org

    Myanmar: the crisis since the February 2021 coup - Crisis Overview

    Amnesty

    Original link no longer available
  9. 9
    Australian government must immediately halt relationship with Myanmar military

    Australian government must immediately halt relationship with Myanmar military

    In the wake of the military coup in Myanmar, Australia must halt all military, security and policing transfers and training to Myanmar, Amnesty

    Amnesty International Australia
  10. 10
    13 countries involved in training and cooperation with the Burmese military

    13 countries involved in training and cooperation with the Burmese military

    Thirteen countries are involved in military training and/or cooperation with the Burmese military, despite its human rights record. Burma Campaign UK has published a new briefing paper today listing the countries, with open source links to information about the training and cooperation. The Brie

    Burma Campaign UK
  11. 11
    New Military Exercise Highlights India-Myanmar Defense Relations

    New Military Exercise Highlights India-Myanmar Defense Relations

    The drills are focused on peacekeeping operations.

    Thediplomat
  12. 12
    News Organization Credibility Reference Database

    News Organization Credibility Reference Database

    Wikipedia

Metodologi Skala Penilaian

1-3: SALAH

Secara faktual salah atau fabrikasi jahat.

4-6: SEBAGIAN

Ada kebenaran tetapi konteks hilang atau menyimpang.

7-9: SEBAGIAN BESAR BENAR

Masalah teknis kecil atau masalah redaksi.

10: AKURAT

Terverifikasi sempurna dan adil secara kontekstual.

Metodologi: Penilaian ditentukan melalui referensi silang catatan pemerintah resmi, organisasi pemeriksa fakta independen, dan dokumen sumber primer.