“Mengurangi perlindungan konsumen dan kewajiban pinjaman yang bertanggung jawab untuk broker hipotek yang diperkenalkan setelah krisis keuangan global.”
Klaim ini memerlukan evaluasi apakah pemerintah Koalisi (Liberal-National Coalition) "mengurangi" perlindungan konsumen yang ada dan kewajiban pinjaman yang bertanggung jawab.
The claim requires evaluation of whether the Coalition government "wound back" existing consumer protections and responsible lending obligations.
Ini adalah klaim kompleks yang memerlukan penjelasan yang cermat: Apakah mereka MENGHAPUS perlindungan yang ada, atau TIDAK MENERAPKAN yang baru yang direkomendasikan oleh reformasi pascakrisis?
This is a complex claim that demands careful parsing: Did they **remove** protections that existed, or **fail to implement new ones** recommended by post-GFC reforms?
### Konteks Perlindungan Konsumen Pra-Krisis
### Pre-GFC Consumer Protections Context
Setelah Krisis Keuangan Global, pemerintahan Buruh Rudd-Gillard memperkenalkan **National Consumer Credit Protection Act 2009** (yang mulai berlaku tahun 2010) [4].
After the Global Financial Crisis, the Rudd-Gillard Labor government introduced the **National Consumer Credit Protection Act 2009** (which commenced 2010) [4].
UU ini menetapkan: - Kewajiban pinjaman yang bertanggung jawab untuk pemegang lisensi kredit dan broker hipotek [5] - Persyaratan untuk pertanyaan yang wajar tentang keadaan peminjam [5] - Verifikasi kelayakan kredit [5] - Larangan terhadap perilaku yang tidak dapat dibenarkan [5] Kewajiban ini tetap berlaku sejak tahun 2010 dan TIDAK dihapus oleh pemerintah Koalisi [5].
This established:
- Responsible lending obligations for credit licensees and mortgage brokers [5]
- Requirements for reasonable inquiries about borrower circumstances [5]
- Verification of creditworthiness [5]
- Prohibition on unconscionable conduct [5]
These obligations have remained largely intact since 2010 and were NOT removed by the Coalition government [5].
### Komisi Kerajaan untuk Jasa Keuangan (2018-2019)
### The Financial Services Royal Commission (2018-2019)
Komisi Kerajaan Hayne (Laporan Akhir Februari 2019) mengidentifikasi konflik kepentingan fundamental dalam kompensasi broker hipotek [6].
The Hayne Royal Commission (Final Report February 2019) identified fundamental conflicts of interest in mortgage broker remuneration [6].
Temuan kunci: broker dibayar oleh pemberi pinjaman (berdasarkan ukuran pinjaman) sementara diwajibkan untuk bertindak atas kepentingan peminjam, menciptakan insentif yang tidak selaras [6].
Key finding: brokers are paid by lenders (based on loan size) while required to act in borrowers' interests, creating misaligned incentives [6].
Hayne merekomendasikan: - Peminjam, bukan pemberi pinjaman, harus membayar broker [7] - Menerapkan kewajiban kepentingan terbaik untuk broker [7] - Menghapuskan komisi jangka panjang (trail commissions) yang dibayar oleh pemberi pinjaman secara bertahap [7]
Hayne recommended:
- Borrowers, not lenders, should pay brokers [7]
- Implement best interests duty for brokers [7]
- Phase out lender-paid trail commissions [7]
### Respons Pemerintah Koalisi: Apa yang TELAH Diterapkan
### Coalition Government's Response: What WAS Implemented
**Kewajiban Kepentingan Terbaik (2020)** [8]: - Financial Sector Reform (Hayne Royal Commission Response—Protecting Consumers) Act 2020 disahkan Februari 2020 [8] - Membuat kewajiban kepentingan terbaik secara hukum untuk broker hipotek yang efektif mulai 1 Januari 2021 [8] - ASIC menerbitkan Regulatory Guide 273 (Juni 2020) yang memberikan panduan untuk kepatuhan [9] - Ini merupakan perlindungan konsumen BARU, bukan perlindungan yang dikurangi [8] **Pembatasan Komisi Berbasis Kampanye dan Volume (2019)** [10]: - Melarang komisi berbasis kampanye dan volume pada perantara hipotek [10] - Mewajibkan komisi di muka untuk dikaitkan dengan jumlah yang ditarik [10] - Menerapkan batas pengambilan kembali komisi dua tahun (Juli 2020) [10] **Pembaruan Regulasi Kewajiban Pinjaman Bertanggung Jawab ASIC (Desember 2019)** [11]: - ASIC memperbarui Regulatory Guide 209 tentang praktik kewajiban pinjaman yang bertanggung jawab untuk pemegang lisensi kredit [11] - Menjelaskan dan memperkuat kewajiban yang ada daripada menguranginya [11]
**Best Interests Duty (2020)** [8]:
- Financial Sector Reform (Hayne Royal Commission Response—Protecting Consumers) Act 2020 passed February 2020 [8]
- Created statutory best interests duty for mortgage brokers effective January 1, 2021 [8]
- ASIC published Regulatory Guide 273 (June 2020) providing guidance on compliance [9]
- This represented NEW consumer protection, not wound-back protection [8]
**Campaign and Volume-Based Commission Restrictions (2019)** [10]:
- Banned campaign and volume-based commissions on mortgage broking [10]
- Required upfront commissions to be linked to drawn-down amounts [10]
- Implemented two-year claw-back limit on commissions (July 2020) [10]
**Responsible Lending Obligations: ASIC Regulatory Update (December 2019)** [11]:
- ASIC updated Regulatory Guide 209 on responsible lending conduct for credit licensees [11]
- Clarified and reinforced existing obligations rather than reducing them [11]
### Respons Pemerintah Koalisi: Apa yang TIDAK Diterapkan (Ditolak atau Ditunda)
### Coalition Government's Response: What Was NOT Implemented (Rejected or Deferred)
**Larangan Komisi Jangka Panjang** [12]: - Hayne merekomendasikan menghapuskan komisi jangka panjang yang dibayar oleh pemberi pinjaman secara bertahap [12] - **Maret 2019**: Menteri Keuangan Josh Frydenberg mengumumkan bahwa Koalisi TIDAK akan melarang komisi jangka panjang [13] - Menunda peninjauan hingga 2022 [13] - **Maret 2022**: Menteri Keuangan Pembantu Michael Sukkar mengumumkan pemerintah TIDAK akan melanjutkan peninjauan 2022; tidak ada perubahan lebih lanjut pada regulasi kompensasi broker [12] - Hasil: Komisi jangka panjang yang dibayar oleh pemberi pinjaman terus berlanjut tanpa batas, menciptakan konflik kepentingan yang terus berlanjut [12] **Model Pembayaran Langsung oleh Peminjam** [14]: - Hayne merekomendasikan peminjam membayar broker secara langsung (biaya transparan) daripada komisi tersembunyi dari pemberi pinjaman [14] - Pemerintah Koalisi menolak ini sepenuhnya dan melanjutkan komisi yang dibayar oleh pemberi pinjaman [14]
**Trail Commission Ban** [12]:
- Hayne recommended phasing out lender-paid trail commissions [12]
- **March 2019**: Treasurer Josh Frydenberg announced the Coalition would NOT ban trail commissions [13]
- Deferred review to 2022 [13]
- **March 2022**: Assistant Treasurer Michael Sukkar announced the government would NOT proceed with the 2022 review; no further changes to broker remuneration regulations [12]
- Result: Lender-paid trail commissions continue indefinitely, creating ongoing conflict of interest [12]
**Borrower-Pays Model** [14]:
- Hayne recommended borrowers directly pay brokers (transparent fees) rather than hidden lender commissions [14]
- Coalition government rejected this entirely and continued allowing lender-paid commissions [14]
Konteks yang Hilang
Klaim ini menyamakan dua skenario yang berbeda: 1. **Mengurangi** = menghapus perlindungan yang sudah ada 2. **Gagal menerapkan** = tidak menambah perlindungan baru yang direkomendasikan oleh reformasi pascakrisis Pemerintah Koalisi TIDAK menghapus kewajiban pinjaman bertanggung jawab inti yang diperkenalkan oleh Buruh tahun 2010.
The claim conflates two distinct scenarios:
1. **Wound back** = removing protections that already existed
2. **Failed to implement** = not adding new protections recommended by post-crisis reforms
The Coalition government did NOT remove the core responsible lending obligations that Labor introduced in 2010.
Yang mereka lakukan adalah: - Menerima beberapa rekomendasi Hayne (kewajiban kepentingan terbaik) [8] - Menolak yang lain (larangan komisi jangka panjang, model pembayaran langsung oleh peminjam) [12], [14] - Menunda reformasi struktural tanpa batas [12] Klaim ini juga menghilangkan konteks penting tentang MENGAPA keputusan ini dibuat: **Alasan yang Dinyatakan Koalisi** [15]: - Larangan komisi jangka panjang akan "menutup bisnis broker hipotek" [15] - Khawatir tentang dampak kompetitif pada pinjaman non-bank [15] - Berpendapat bahwa kewajiban kepentingan terbaik sudah cukup untuk mengelola konflik [16] **Posisi Buruh yang Berbeda** [17]: - Juga menolak model pembayaran langsung oleh peminjam tetapi menginginkan biaya tetap yang dibayar oleh pemberi pinjaman yang distandardisasi [17] - Menyerukan ketentuan penalti sipil untuk pelanggaran kewajiban kepentingan terbaik [17] - Berkomitmen untuk berkonsultasi tentang reformasi lebih lanjut [17]
What they DID do was:
- Accept some Hayne recommendations (best interests duty) [8]
- Reject others (trail commission ban, borrower-pays model) [12], [14]
- Defer structural reform indefinitely [12]
The claim also omits important context about WHY these decisions were made:
**Coalition's Stated Reasoning** [15]:
- Trail commission bans would "put mortgage brokers out of business" [15]
- Concerned about competitive impact on non-bank lending [15]
- Believed best interests duty was sufficient to manage conflicts [16]
**Labor's Different Position** [17]:
- Also rejected borrower-pays model but wanted standardised lender-paid flat fees [17]
- Called for civil penalty provisions for best interests duty breach [17]
- Committed to consulting on further reforms [17]
Penilaian Kredibilitas Sumber
**The Age** adalah media arus utama Australia (Fairfax/Nine Entertainment) dengan standar jurnalistik dan pengawasan editorial yang solid [1].
**The Age** is a mainstream Australian news outlet (Fairfax/Nine Entertainment) with solid journalistic standards and editorial oversight [1].
Meskipun condong ke tengah-kiri, itu membedakan antara pelaporan berita dan opini [2]. **Betoota Advocate** adalah publikasi satir yang memparodikan berita dan politik Australia [3].
While it does lean center-left, it distinguishes between news reporting and opinion [2].
**Betoota Advocate** is a satirical publication that parodies Australian news and politics [3].
Ini BUKAN sumber berita faktual dan tidak boleh digunakan untuk memverifikasi klaim—judul artikel sendiri menunjukkan itu adalah satir ("pemerintah akan memperbaiki ekonomi Australia dengan memberitahu bank untuk melakukan persis apa yang menyebabkan krisis keuangan global" adalah komentar sarkasme, bukan pelaporan faktual) [3]. **Penilaian**: The Age kredibel untuk klaim faktual, tetapi Betoota adalah satire dan menyesatkan ketika disajikan sebagai sumber.
It is NOT a factual news source and should not be used for verifying claims—the article title alone reveals it is satire ("government to repair Australia's economy by telling banks to do exactly what caused the GFC" is clearly sarcastic commentary, not factual reporting) [3].
**Assessment**: The Age is credible for factual claims, but Betoota is satire and misleading when presented as a source.
Menggunakan satire sebagai sumber bukti adalah tanda bahaya kredibilitas untuk kompilasi klaim asli.
Using satire as an evidence source is a credibility red flag for the original claim compilation.
⚖️
Perbandingan Labor
**Posisi Buruh tentang Regulasi Broker Hipotek** [17]: Kebijakan alternatif Buruh: - Juga menolak model pembayaran langsung oleh peminjam karena tidak dapat diterapkan untuk kompetisi [17] - Mengusulkan biaya tetap yang dibayar oleh pemberi pinjaman yang distandardisasi daripada komisi berbasis persentase [17] - memprioritaskan kewajiban kepentingan terbaik dengan ketentuan penalti sipil [17] - Berkomitmen untuk berkonsultasi tentang penyesuaian lebih lanjut regulasi broker dengan regulasi penasihat keuangan [17] **Perbedaan Kunci:** Buruh TIDAK akan membatalkan peninjauan komisi jangka panjang tahun 2022 [12].
**Labor's Position on Mortgage Broker Regulation** [17]:
Labor's alternate policy:
- Also rejected borrower-pays model as unworkable for competition [17]
- Proposed standardised lender-paid flat fees instead of percentage-based commissions [17]
- Prioritized best interests duty with civil penalty provisions [17]
- Committed to consulting on further alignment of broker regulation with financial adviser regulation [17]
**Key Difference:** Labor would NOT have cancelled the 2022 review of trail commissions [12].
Sebaliknya, mereka akan melanjutkan konsultasi tentang reformasi lebih lanjut [17].
Instead, they would have proceeded with consultation on further reform [17].
Namun, alternatif Buruh juga TIDAK mengusulkan larangan komprehensif terhadap komisi yang dibayar oleh pemberi pinjaman—mereka mengusulkan reformasi tentang BAGAIMANA komisi tersebut distrukturkan dan dibayarkan [17]. **Temuan:** Kedua partai menerima bahwa reformasi struktural sulit.
However, Labor's alternative also did NOT propose a comprehensive ban on lender-paid commissions—they proposed reform of HOW those commissions were structured and paid [17].
**Finding:** Both parties accepted that structural reform was difficult.
Koalisi memilih untuk tidak mengejar reformasi lebih lanjut; Buruh menunjukkan mereka akan melakukannya, tetapi detail tentang apa yang sebenarnya akan diimplementasikan Buruh tetap sebagian tidak jelas dari sumber yang tersedia.
The Coalition chose not to pursue further reform; Labor indicated they would, but the details of what Labor would have actually implemented remain partially unclear from available sources.
🌐
Perspektif Seimbang
### Kritik yang Sah
### The Legitimate Criticism
Hayne mengidentifikasi masalah struktural fundamental: broker dibayar oleh pemberi pinjaman sementara diwajibkan untuk bertindak atas kepentingan peminjam menciptakan konflik kepentingan yang melekat [6].
Hayne identified a fundamental structural problem: brokers paid by lenders while required to act for borrowers creates inherent conflict of interest [6].
Penolakan Koalisi terhadap larangan komisi jangka panjang dan model pembayaran langsung oleh peminjam berarti konflik ini tetap tidak diatasi [12], [14].
The Coalition's rejection of the trail commission ban and borrower-pays model meant this conflict remained unaddressed [12], [14].
Kewajiban kepentingan terbaik (yang Koalisi LAKU terapkan) adalah mekanisme pengelolaan, tetapi Hayne menemukan bahwa konflik itu sendiri perlu dieliminasi, bukan hanya dikelola [6].
The best interests duty (which the Coalition DID implement) is a management mechanism, but Hayne found the conflict itself needed to be eliminated, not just managed [6].
ASIC mencatat bahwa patuh pada kewajiban pinjaman bertanggung jawab TIDAK cukup untuk memenuhi kewajiban kepentingan terbaik—kewajiban baru ini memberlakukan standar yang lebih tinggi [9].
ASIC noted that complying with responsible lending obligations is NOT sufficient to meet the best interests duty—the new duty imposes a higher standard [9].
Keputusan untuk membatalkan peninjauan komisi jangka panjang tahun 2022, diumumkan hanya berbulan-bulan sebelum pemilihan, tampaknya merupakan pilihan politik untuk menghindari reaksi keras dari industri [12].
The decision to cancel the 2022 review of trail commissions, announced just months before elections, appeared to be a political choice to avoid industry backlash [12].
### Apa yang Klaim Lewatkan
### What the Claim Misses
**Koalisi Menambah Perlindungan, Bukan Menghapusnya** [8]: - Kewajiban kepentingan terbaik TIDAK ada sebelum tahun 2021; ini adalah perlindungan baru [8] - Ini secara teknis merupakan LAWANAN dari "mengurangi"—ini menambah perlindungan konsumen [8] **Kewajiban Pinjaman Bertanggung Jawab Tetap Berlaku** [5]: - Kewajiban inti dari NCCPA 2009 tidak pernah dihapus [5] - Pembaruan ASIC tahun 2019 memperkuat, bukan mengurangi, kerangka tersebut [11] **Konflik Diketahui dan Diatasi Sebagian** [10]: - Koalisi MEMANG menerapkan pembatasan komisi berbasis kampanye/volume [10] - Ini secara langsung mengurangi struktur komisi yang bermasalah [10] **Partai Lain Juga Berjuang dengan Isu Ini** [17]: - Buruh juga menolak model pembayaran langsung oleh peminjam, mengkhawatirkan dampaknya [17] - Debat ekonom dan industri ada tentang apakah larangan komisi jangka panjang akan menghilangkan kompetisi broker [15] - Tidak ada partai besar yang mengusulkan sepenuhnya menghilangkan broker hipotek [17]
**The Coalition Added Protections, Not Removed Them** [8]:
- Best interests duty did NOT exist pre-2021; this is a new protection [8]
- This is technically the OPPOSITE of "winding back"—it's adding consumer protection [8]
**Responsible Lending Obligations Remain in Force** [5]:
- The core obligations from the 2009 NCCPA have never been removed [5]
- ASIC's 2019 update reinforced, not reduced, the framework [11]
**The Conflict Was Known and Partially Addressed** [10]:
- Coalition DID implement campaign/volume-based commission restrictions [10]
- This directly reduces problematic commission structures [10]
**Other Parties Also Grappled With This Issue** [17]:
- Labor also rejected the borrower-pays model, concerned about impacts [17]
- Economist and industry debate exists about whether trail commissions ban would eliminate broker competition [15]
- No major party proposed completely eliminating mortgage brokers [17]
SEBAGIAN BENAR
6.0
/ 10
**Justifikasi:** Klaim ini secara faktual tidak benar dalam asersi intinya bahwa Koalisi "mengurangi" perlindungan konsumen [5], [8].
**Justification:**
The claim is factually incorrect in its core assertion that the Coalition "wound back" consumer protections [5], [8].
Kewajiban pinjaman bertanggung jawab yang diperkenalkan oleh Buruh tahun 2010 tetap berlaku dan tidak dihapus [5].
The responsible lending obligations introduced by Labor in 2010 remain in force and were not removed [5].
Kewajiban kepentingan terbaik yang diperkenalkan oleh Koalisi tahun 2021 sebenarnya adalah perlindungan konsumen BARU, bukan perlindungan yang dikurangi [8].
The best interests duty introduced by the Coalition in 2021 is actually a NEW consumer protection, not a wound-back one [8].
Namun, klaim ini mengandung butir kebenaran yang penting: Pemerintah Koalisi MEMANG menolak atau menunda reformasi struktural tanpa batas untuk mengatasi konflik kepentingan dalam kompensasi broker hipotek yang Komisi Kerajaan Jasa Keuangan (Financial Services Royal Commission) identifikasi sebagai bermasalah [12], [14].
However, the claim contains an important grain of truth: The Coalition government DID reject or indefinitely defer structural reforms to address the conflict of interest in mortgage broker remuneration that the Financial Services Royal Commission identified as problematic [12], [14].
Dengan memilih untuk tidak melarang komisi jangka panjang dan tidak beralih ke model pembayaran langsung oleh peminjam, Koalisi gagal menerapkan reformasi yang Hayne argumentasikan sebagai diperlukan [12], [14]. **Elemen yang menyesatkan:** Menyajikan ini sebagai "mengurangi" perlindungan tidak akurat.
By choosing not to ban trail commissions and not to move to a borrower-pays model, the Coalition failed to implement reforms that Hayne argued were necessary [12], [14].
**The misleading element:** Presenting this as "winding back" protections is inaccurate.
Klaim yang lebih tepat adalah: "Gagal menerapkan reformasi struktural pada kompensasi broker hipotek yang direkomendasikan oleh Komisi Kerajaan Hayne, sebagai gantinya mengandalkan kewajiban kepentingan terbaik untuk mengelola konflik kepentingan yang melekat." **Apa yang BENAR:** - Koalisi menolak larangan komisi jangka panjang [12] - Koalisi menolak model pembayaran langsung oleh peminjam [14] - Koalisi membatalkan peninjauan komisi jangka panjang tahun 2022 [12] - Hayne mengidentifikasi ini sebagai reformasi yang diperlukan [7], [6] **Apa yang SALAH atau MENYESATKAN:** - "Mengurangi" perlindungan konsumen yang ada [5], [8] - Menyarankan penghapusan perlindungan yang sebenarnya tetap berlaku [5] - Menyesatkan dengan menghilangkan fakta bahwa Koalisi MENAMBAH kewajiban kepentingan terbaik [8]
A more precise claim would be: "Failed to implement the structural reforms to mortgage broker remuneration recommended by the Hayne Royal Commission, instead relying on best interests duty to manage inherent conflicts of interest."
**What is TRUE:**
- Coalition rejected trail commission ban [12]
- Coalition rejected borrower-pays model [14]
- Coalition cancelled the 2022 review of trail commissions [12]
- Hayne identified these as necessary reforms [7], [6]
**What is FALSE or MISLEADING:**
- "Wound back" existing consumer protections [5], [8]
- Suggests removal of protections that actually remain in place [5]
- Misleading by omitting that Coalition ADDED best interests duty [8]
Skor Akhir
6.0
/ 10
SEBAGIAN BENAR
**Justifikasi:** Klaim ini secara faktual tidak benar dalam asersi intinya bahwa Koalisi "mengurangi" perlindungan konsumen [5], [8].
**Justification:**
The claim is factually incorrect in its core assertion that the Coalition "wound back" consumer protections [5], [8].
Kewajiban pinjaman bertanggung jawab yang diperkenalkan oleh Buruh tahun 2010 tetap berlaku dan tidak dihapus [5].
The responsible lending obligations introduced by Labor in 2010 remain in force and were not removed [5].
Kewajiban kepentingan terbaik yang diperkenalkan oleh Koalisi tahun 2021 sebenarnya adalah perlindungan konsumen BARU, bukan perlindungan yang dikurangi [8].
The best interests duty introduced by the Coalition in 2021 is actually a NEW consumer protection, not a wound-back one [8].
Namun, klaim ini mengandung butir kebenaran yang penting: Pemerintah Koalisi MEMANG menolak atau menunda reformasi struktural tanpa batas untuk mengatasi konflik kepentingan dalam kompensasi broker hipotek yang Komisi Kerajaan Jasa Keuangan (Financial Services Royal Commission) identifikasi sebagai bermasalah [12], [14].
However, the claim contains an important grain of truth: The Coalition government DID reject or indefinitely defer structural reforms to address the conflict of interest in mortgage broker remuneration that the Financial Services Royal Commission identified as problematic [12], [14].
Dengan memilih untuk tidak melarang komisi jangka panjang dan tidak beralih ke model pembayaran langsung oleh peminjam, Koalisi gagal menerapkan reformasi yang Hayne argumentasikan sebagai diperlukan [12], [14]. **Elemen yang menyesatkan:** Menyajikan ini sebagai "mengurangi" perlindungan tidak akurat.
By choosing not to ban trail commissions and not to move to a borrower-pays model, the Coalition failed to implement reforms that Hayne argued were necessary [12], [14].
**The misleading element:** Presenting this as "winding back" protections is inaccurate.
Klaim yang lebih tepat adalah: "Gagal menerapkan reformasi struktural pada kompensasi broker hipotek yang direkomendasikan oleh Komisi Kerajaan Hayne, sebagai gantinya mengandalkan kewajiban kepentingan terbaik untuk mengelola konflik kepentingan yang melekat." **Apa yang BENAR:** - Koalisi menolak larangan komisi jangka panjang [12] - Koalisi menolak model pembayaran langsung oleh peminjam [14] - Koalisi membatalkan peninjauan komisi jangka panjang tahun 2022 [12] - Hayne mengidentifikasi ini sebagai reformasi yang diperlukan [7], [6] **Apa yang SALAH atau MENYESATKAN:** - "Mengurangi" perlindungan konsumen yang ada [5], [8] - Menyarankan penghapusan perlindungan yang sebenarnya tetap berlaku [5] - Menyesatkan dengan menghilangkan fakta bahwa Koalisi MENAMBAH kewajiban kepentingan terbaik [8]
A more precise claim would be: "Failed to implement the structural reforms to mortgage broker remuneration recommended by the Hayne Royal Commission, instead relying on best interests duty to manage inherent conflicts of interest."
**What is TRUE:**
- Coalition rejected trail commission ban [12]
- Coalition rejected borrower-pays model [14]
- Coalition cancelled the 2022 review of trail commissions [12]
- Hayne identified these as necessary reforms [7], [6]
**What is FALSE or MISLEADING:**
- "Wound back" existing consumer protections [5], [8]
- Suggests removal of protections that actually remain in place [5]
- Misleading by omitting that Coalition ADDED best interests duty [8]