Salah

Penilaian: 3.0/10

Coalition
C0109

Klaim

“Berbohong dengan mengklaim bahwa undang-undang baru tidak dapat mengakibatkan larangan aplikasi kencan seperti Tinder di Australia, padahal undang-undang mereka secara jelas menyatakan dalam pasal 6.128.1.d bahwa komisioner yang relevan akan diberi kewenangan untuk melarang aplikasi-aplikasi tersebut untuk berbagai alasan.”
Sumber Asli: Matthew Davis
Dianalisis: 29 Jan 2026

Sumber Asli

VERIFIKASI FAKTA

Acara ABC Hack dari tanggal 17 Maret 2021, memastikan bahwa Menteri Komunikasi Paul Fletcher membuat pernyataan berikut [1]: > "Tidak ada niat untuk melarang aplikasi kencan online, sama seperti tidak ada niat untuk melarang layanan media sosial," kata beliau kepada Hack.
The ABC Hack episode from March 17, 2021, confirms that Communications Minister Paul Fletcher made the following statement [1]: > "There is no intention to be banning online dating apps, just as there's no intention to be banning social media services," he told Hack.
Menteri Fletcher menyatakan secara eksplisit bahwa undang-undang tersebut tidak akan melarang aplikasi kencan, dan bahwa sanksi maksimum untuk platform yang tidak mematuhi pemberitahuan penghapusan adalah 110.000 dolar Australia [1].
Minister Fletcher stated explicitly that the legislation would not ban dating apps, and that the maximum penalty for platforms failing to comply with removal notices would be $110,000 [1].
Online Safety Act 2021 disahkan oleh Parlemen pada tanggal 23 Juni 2021, dan menerima Persetujuan Kerajaan (Royal Assent) pada tahun yang sama [2][3].
The Online Safety Act 2021 was passed by Parliament on June 23, 2021, and received Royal Assent later that year [2][3].
Undang-undang tersebut memberikan Komisioner Keselamatan Siber (eSafety Commissioner) kewenangan untuk menerbitkan pemberitahuan penghapusan yang mewajibkan penyedia layanan untuk menghapus konten yang "tidak layak untuk anak di bawah umur" atau merupakan pelecehan online, perundungan siber, atau kerugian terkait lainnya [4][5].
The legislation gives the eSafety Commissioner powers to issue removal notices requiring service providers to remove content that is "unsuitable for a minor" or constitutes online abuse, cyberbullying, or related harms [4][5].
Namun, pemeriksaan terhadap undang-undang yang sebenarnya mengungkapkan kesalahan faktis kritis dalam klaim tersebut: **Undang-undang tersebut TIDAK mengandung "pasal 6.128.1.d"** [6].
However, examination of the actual legislation reveals a critical factual error in the claim: **The legislation does NOT contain a "section 6.128.1.d"** [6].
Nomor pasal spesifik ini tidak ada dalam Online Safety Act 2021.
This specific section number does not exist in the Online Safety Act 2021.
Undang-undang tersebut memang mengandung ketentuan mengenai kewenangan Komisioner: - **Pasal 109**: Memungkinkan Komisioner untuk menerbitkan pemberitahuan penghapusan kepada penyedia layanan hosting untuk menghapus materi tertentu [7] - **Pasal 66**: Memberikan kewenangan kepada Komisioner untuk menerbitkan pemberitahuan penghapusan yang mewajibkan penyedia layanan untuk berhenti menghosting materi dalam waktu 24 jam [8] - **Jadwal 7**: Menguraikan kewenangan Komisioner mengenai konten yang "tidak layak untuk anak di bawah umur" [6] Kewenangan pemberitahuan penghapusan terbatas pada penghapusan *konten spesifik* dari layanan tersebut, bukan melarang seluruh layanan atau aplikasi [7][8].
The act does contain provisions regarding the Commissioner's powers: - **Section 109**: Allows the Commissioner to issue removal notices to hosting service providers to remove particular material [7] - **Section 66**: Empowers the Commissioner to issue removal notices requiring service providers to cease hosting material within 24 hours [8] - **Schedule 7**: Outlines the Commissioner's powers regarding "unsuitable for a minor" content [6] The removal notice power is limited to requiring removal of *specific content* from the service, not banning entire services or applications [7][8].
Undang-undang tersebut tidak memberikan Komisioner kewenangan untuk melarang aplikasi kencan atau platform media sosial secara keseluruhan, hanya untuk mewajibkan penghapusan materi berbahaya tertentu [5].
The legislation does not grant the Commissioner power to ban entire dating apps or social media platforms, only to mandate the removal of specific harmful material [5].

Konteks yang Hilang

Klaim tersebut menghilangkan beberapa detail penting: 1. **Ruang lingkup regulasi terbatas**: Kekuatan pemberitahuan penghapusan berlaku secara spesifik untuk konten yang melanggar Undang-Undang—tidak memberikan Komisioner kewenangan untuk menutup atau melarang platform secara keseluruhan [7][8].
The claim omits several crucial details: 1. **Limited regulatory scope**: The removal notice power applies specifically to content that violates the Act—it does not provide the Commissioner with the power to shut down or ban entire platforms [7][8].
Komisioner dapat mewajibkan penghapusan materi spesifik, bukan seluruh layanan [5]. 2. **Pemeriksaan dan keseimbangan**: Setiap keputusan oleh Komisioner dapat diajukan banding ke Pengadilan Banding Administratif (Administrative Appeals Tribunal), yang memberikan pengawasan kehakiman [1].
The Commissioner can require removal of specific material, not the entire service [5]. 2. **Checks and balances**: Any decision by the Commissioner is subject to appeal in the Administrative Appeals Tribunal, providing judicial oversight [1].
Perlindungan pengaman ini diakui oleh Menteri Fletcher dalam wawancara ABC [1]. 3. **Kekhawatiran pakar hak digital tentang kelebihan kewenangan, bukan larangan aplikasi**: Artikel ABC mengutip kekhawatiran dari Digital Rights Watch tentang kewenangan diskresi luas dalam undang-undang tersebut dan konsekuensi tidak diinginkan bagi pembuat konten seksual, bukan tentang larangan aplikasi kencan secara spesifik [1].
This safeguard was acknowledged by Minister Fletcher in the ABC interview [1]. 3. **Digital rights expert concerns were about overreach, not app bans**: The ABC article cites concerns from Digital Rights Watch about the legislation's broad discretionary powers and unintended consequences for sexual content creators, not about dating app bans specifically [1].
Pakar Lucie Krahulcova memperingatkan bahwa RUU tersebut memberikan kewenangan diskresi yang belum pernah terjadi sebelumnya namun tidak berargumen bahwa Komisioner dapat melarang aplikasi [1]. 4. **Konteks pernyataan**: Pernyataan Menteri Fletcher bahwa aplikasi tidak akan dilarang mencerminkan kerangka legislatif yang sebenarnya—pemberitahuan penghapusan menarget *konten* berbahaya, bukan seluruh layanan.
Expert Lucie Krahulcova warned the bill gave unprecedented discretionary powers but did not argue the Commissioner could ban apps [1]. 4. **Context of statement**: Minister Fletcher's statement reflected the actual legislative framework—removal notices target harmful *content*, not entire services.
Jaminan beliau selaras dengan mekanisme aktual dalam undang-undang tersebut [1].
His guarantee aligned with the legislation's actual mechanisms [1].

Penilaian Kredibilitas Sumber

**ABC Hack (sumber 1)**: ABC adalah penyiar negara Australia dan outlet media arus utama.
**ABC Hack (source 1)**: ABC is Australia's state broadcaster and mainstream media outlet.
Hack adalah program terkemuka yang membahas isu-isu yang berfokus pada kaum muda.
Hack is a reputable program covering youth-focused issues.
Artikel tersebut secara langsung mengutip Menteri Fletcher dan menyajikan berbagai perspektif, termasuk dari pakar hak digital.
The article directly quotes Minister Fletcher and presents multiple perspectives, including from digital rights experts.
Ini adalah sumber utama yang kredibel [1]. **Catatan parlemen (sumber 2)**: Ini adalah basis data legislatif pemerintah yang menyediakan catatan parlemen resmi.
This is a credible primary source [1]. **Parliamentary record (source 2)**: This is a government legislative database providing official parliamentary records.
Sumber utama yang kredibel namun klaim tentang "pasal 6.128.1.d" tidak dapat diverifikasi melalui sumber ini atau sumber resmi mana pun, karena pasal ini tidak ada [2]. **Kredibilitas sumber klaim itu sendiri**: Klaim tersebut muncul di mdavis.xyz, yang menyajikan pemeriksaan fakta yang berpihak pada Labor terhadap pernyataan pemerintahan Koalisi.
Credible primary source but the claim about "section 6.128.1.d" cannot be verified through this or any official source, as this section does not exist [2]. **Source credibility of the claim itself**: The claim appears on mdavis.xyz, which presents Labor-aligned fact checks of Coalition government statements.
Meskipun sumber tersebut dapat memberikan kritik yang sah, sitasi spesifik ke "pasal 6.128.1.d" tampaknya merupakan salah satu dari: - Salah mengingat nomor pasal - Salah paham tentang struktur undang-undang - Nomor pasal yang dibuat-buat Ketidakadaan pasal spesifik ini secara signifikan merusak kredibilitas klaim, karena ini adalah bukti faktis utama yang ditawarkan.
While such sources can provide legitimate criticism, the specific citation to "section 6.128.1.d" appears to be either: - A misremembering of section numbers - A misunderstanding of the legislation's structure - An invented section number The non-existence of this specific section significantly undermines the claim's credibility, as it's the primary factual evidence offered.
⚖️

Perbandingan Labor

**Apakah Labor melakukan hal yang serupa?** Pemerintahan Labor (di bawah Perdana Menteri Anthony Albanese, yang menjabat pada Mei 2022) tidak memperkenalkan undang-undang untuk melarang aplikasi kencan.
**Did Labor do something similar?** The Labor government (under Prime Minister Anthony Albanese, which took office in May 2022) did not introduce legislation to ban dating apps.
Sebaliknya, pada tahun 2024, pemerintahan Labor meminta platform kencan online untuk secara sukarela mengadopsi kode perilaku industri untuk meningkatkan keselamatan [9][10].
Instead, in 2024, the Labor government requested that online dating platforms voluntarily adopt an industry code of conduct to improve safety [9][10].
Pemerintahan Albanese mengadakan Konferensi Tingkat Tinggi Nasional tentang Keselamatan Kencan Online (National Roundtable on Online Dating Safety) dan bernegosiasi dengan perusahaan aplikasi kencan termasuk Tinder, Bumble, Grindr, dan lainnya untuk mengembangkan kode industri sukarela yang mulai berlaku pada 1 Oktober 2024 [9][10].
The Albanese government held a National Roundtable on Online Dating Safety and negotiated with dating app companies including Tinder, Bumble, Grindr, and others to develop a voluntary industry code that commenced October 1, 2024 [9][10].
Kode ini mewajibkan platform untuk menerapkan langkah-langkah keselamatan namun tidak melibatkan undang-undangan yang melarang aplikasi—ini adalah pendekatan pengaturan diri industri secara sukarela [10].
This code requires platforms to implement safety measures but does not involve legislation banning apps—it's a voluntary industry self-regulation approach [10].
Perbedaan fundamental: Online Safety Act 2021 dari Koalisi (disahkan sebelum klaim dibuat) berfokus pada pemberitahuan penghapusan untuk konten berbahaya.
The fundamental difference: The Coalition's 2021 Online Safety Act (passed before the claim was made) focused on removal notices for harmful content.
Pendekatan Labor pada tahun 2024 berfokus pada kode industri sukarela tanpa larangan legislatif—ini adalah pendekatan pengaturan diri industri sukarela.
Labor's 2024 approach focused on voluntary industry codes without legislative bans.
Pendekatan kedua partai tidak melibatkan pelarangan aplikasi kencan secara legislatif [9][10].
Neither party's approach involved legislatively banning dating apps [9][10].
🌐

Perspektif Seimbang

Meskipun kritikus berargumen bahwa kewenangan diskresi luas Online Safety Act kepada Komisioner Keselamatan Siber secara teoritis dapat disalahgunakan, teks legislatif aktual tidak mendukung klaim bahwa aplikasi kencan dapat "dilarang" berdasarkan undang-undang tersebut [1][5]. **Posisi pemerintah memiliki dasar yang sah**: Pernyataan Menteri Fletcher bahwa aplikasi tidak akan dilarang mencerminkan mekanisme aktual dalam undang-undang tersebut.
While critics argued that the Online Safety Act's broad discretionary powers to the eSafety Commissioner could potentially be misused, the actual legislative text does not support the claim that dating apps could be "banned" under the legislation [1][5]. **The government's position had legitimate basis**: Minister Fletcher's statement that apps wouldn't be banned reflected the actual mechanisms in the legislation.
Pemberitahuan penghapusan bersifat spesifik konten, bukan spesifik layanan [7][8].
Removal notices are content-specific, not service-specific [7][8].
Undang-undang tersebut menetapkan bahwa Komisioner mengatasi *materi* berbahaya, bukan platform secara keseluruhan [5]. **Namun, kekhawatiran pakar adalah sah**: Pakar hak digital mengangkat kekhawatiran yang sah tentang luasnya definisi "tidak layak untuk anak di bawah umur", yang secara teoritis dapat mempengaruhi aplikasi kencan secara tidak proporsional jika Komisioner menafsirkan ketentuan tersebut secara ekspansif [1].
The act establishes that the Commissioner addresses harmful *material*, not entire platforms [5]. **However, expert concerns were legitimate**: Digital rights experts raised genuine concerns about the breadth of "unsuitable for a minor" definition, which could theoretically affect dating apps disproportionately if the Commissioner interpreted the provision expansively [1].
Kekhawatiran ini berfokus pada kelebihan kewenangan regulasi, bukan larangan aplikasi [1]. **Konteks kunci**: Setelah beberapa tahun beroperasinya Online Safety Act (sejak Januari 2022), Komisioner Keselamatan Siber tidak berusaha melarang aplikasi kencan, dan kerangka undang-undang tersebut mengonfirmasi bahwa ini tidak akan mungkin berdasarkan rezim pemberitahuan penghapusan [4][5].
These concerns focused on regulatory overreach, not app bans [1]. **Key context**: After multiple years of the Online Safety Act's operation (since January 2022), the eSafety Commissioner has not attempted to ban dating apps, and the legislation's framework confirms this would not be possible under the removal notice regime [4][5].
Komisioner sebaliknya berfokus pada penghapusan konten berbahaya spesifik dan mengatasi perundungan siber serta pelecehan berbasis gambar [4]. **Ini tidak unik untuk Koalisi**: Pendekatan Labor pada tahun 2024 dengan aplikasi kencan juga melibatkan keterlibatan regulasi (meskipun sukarela) daripada larangan aplikasi, yang menunjukkan penerimaan lintas partai bahwa aplikasi kencan harus tetap beroperasi dengan langkah-langkah keselamatan yang ditingkatkan [10].
The Commissioner has instead focused on removing specific harmful content and addressing cyberbullying and image-based abuse [4]. **This is not unique to the Coalition**: Labor's 2024 approach with dating apps also involved regulatory involvement (albeit voluntary) rather than app bans, suggesting cross-party acceptance that dating apps should remain operational with improved safety measures [10].

SALAH

3.0

/ 10

Klaim inti mengandung kesalahan faktis yang merusak kredibilitasnya.
The core claim contains a factual error that undermines its credibility.
Sitasi spesifik ke "pasal 6.128.1.d" tidak ada dalam Online Safety Act 2021, sehingga bukti utama untuk klaim tersebut palsu [6].
The specific citation to "section 6.128.1.d" does not exist in the Online Safety Act 2021, making the primary evidence for the claim false [6].
Meskipun undang-undang tersebut memberikan Komisioner kewenangan luas untuk menghapus konten berbahaya, mekanisme aktual tidak mendukung klaim bahwa aplikasi kencan secara keseluruhan dapat "dilarang" [7][8].
While the legislation does grant the Commissioner broad powers to require removal of harmful content, the actual mechanisms do not support the claim that entire dating apps could be "banned" [7][8].
Pernyataan Menteri Fletcher bahwa aplikasi kencan tidak akan dilarang konsisten dengan kerangka pemberitahuan penghapusan spesifik konten dalam undang-undang tersebut, bukan larangan layanan [1].
Minister Fletcher's statement that dating apps wouldn't be banned was consistent with the legislation's actual framework of content-specific removal notices, not service bans [1].
Meskipun pakar hak digital mengangkat kekhawatiran yang sah tentang kelebihan kewenangan regulasi, kekhawatiran mereka berfokus pada definisi konten berbahaya, bukan larangan aplikasi [1].
While digital rights experts raised legitimate concerns about regulatory overreach, their concerns focused on harmful content definitions, not app bans [1].
Klaim tersebut menyamakan kewenangan Komisioner untuk menghapus konten berbahaya spesifik dengan kewenangan untuk melarang seluruh layanan—penyalahgamburan terhadap cara undang-undang tersebut sebenarnya berfungsi [7][8].
The claim conflates the Commissioner's power to remove specific harmful content with the power to ban entire services—a mischaracterization of how the legislation actually functions [7][8].

📚 SUMBER DAN KUTIPAN (12)

  1. 1
    abc.net.au

    abc.net.au

    The government has promised a new online safety bill will make the internet safer, but not everyone’s convinced.

    triple j
  2. 2
    aph.gov.au

    aph.gov.au

    Helpful information Text of bill First reading: Text of the bill as introduced into the Parliament Third reading: Prepared if the bill is amended by the house in which it was introduced. This version of the bill is then considered by the second house. As passed by

    Aph Gov
  3. 3
    loc.gov

    loc.gov

    On June 23, 2021, the Australian Parliament passed the Online Safety Bill 2021 (Cth). The bill was introduced on February 24, 2021, to address the issue of cyberabuse and cyberbullying against Australian adults and to establish an enforcement mechanism through the eSafety Commissioner. The Parliament also passed a complementary bill, the Online Safety (Transitional Provisions … Continue reading “Australia: Online Safety Bill Passed”

    The Library of Congress
  4. 4
    esafety.gov.au

    esafety.gov.au

    Esafety Gov

  5. 5
    esafety.gov.au

    esafety.gov.au

    Esafety Gov

  6. 6
    legislation.gov.au

    legislation.gov.au

    Federal Register of Legislation

  7. 7
    classic.austlii.edu.au

    classic.austlii.edu.au

    SECT 66 Removal notice given to a hosting service provider

  8. 8
    classic.austlii.edu.au

    classic.austlii.edu.au

    SECT 109 Removal notice given to the provider of a social media service, relevant electronic service or designated internet service

  9. 9
    ministers.dss.gov.au

    ministers.dss.gov.au

    Ministers Dss Gov

  10. 10
    infrastructure.gov.au

    infrastructure.gov.au

    Infrastructure Gov

  11. 11
    hrlc.org.au

    hrlc.org.au

    eSafety Commissioner v X Corp [2024] FCA 499The high-profile dispute between the Office of the eSafety (‘eSafety’) Commissioner and X Corp (formerly known as Twitter) has tested key powers of Australia’s Online Safety Act and stimulated spirited debate on the interplay between online safety laws and rights to freedom of expression. eSafety sought enforcement of a removal notice pertaining to a bundle of content showing the high-profile stabbing in Sydney of Bishop Mar Mari Emmanuel. The Federal Court refused to extend an ex parte interim injunction against X Corp, and held that geo-blocking is a reasonable step for removing content pursuant to a removal notice under section 109 of the Online Safety Act. The judgment suggests Parliament should clarify the meaning of ‘all reasonable steps’ in the context of the Online Safety Act.

    Human Rights Law Centre
  12. 12
    au.practicallaw.thomsonreuters.com

    au.practicallaw.thomsonreuters.com

    Au Practicallaw Thomsonreuters

Metodologi Skala Penilaian

1-3: SALAH

Secara faktual salah atau fabrikasi jahat.

4-6: SEBAGIAN

Ada kebenaran tetapi konteks hilang atau menyimpang.

7-9: SEBAGIAN BESAR BENAR

Masalah teknis kecil atau masalah redaksi.

10: AKURAT

Terverifikasi sempurna dan adil secara kontekstual.

Metodologi: Penilaian ditentukan melalui referensi silang catatan pemerintah resmi, organisasi pemeriksa fakta independen, dan dokumen sumber primer.