Sebagian Benar

Penilaian: 7.0/10

Coalition
C0027

Klaim

“Memperkenalkan rancangan undang-undang yang mereka sebut sebagai rancangan 'anti-trolling', yang bahkan tidak menyebutkan trolling sama sekali. Rancangan ini tidak menjadikan trolling ilegal. Rancangan ini tidak memberikan kekuatan kepada perusahaan media sosial untuk menghapus konten yang bersifat fitnah atau trolling. Rancangan ini berarti moderator halaman Facebook tidak lagi memiliki kewajiban untuk menghapus konten trolling, yang justru akan membantu trolling, bukan menghambatnya. Yang dilakukan oleh birokrasi merah baru ini adalah mempermudah penggugatan perusahaan media sosial atas fitnah ketika pengguna mereka memposting hal-hal yang kasar. Perubahan utamanya adalah perusahaan media sosial memerlukan cara untuk menamai pengguna anonim yang dituduh, tetapi pengguna yang dituduh akan diizinkan untuk sekadar mengatakan 'tidak'. Kekuasaan ini hanya dapat digunakan jika kasus fitnah kemungkinan besar akan terjadi (yaitu hanya untuk orang yang memiliki uang $20 ribu cadangan), yang berarti rancangan undang-undang ini tidak akan mengurangi perundungan siber di kalangan pelajar. Pemerintah sendiri sudah bersembunyi di balik akun daring anonim untuk memfitnah lawan politik. Perubahan ini melanggar perjanjian perdagangan bebas yang sudah ada.”
Sumber Asli: Matthew Davis

Sumber Asli

VERIFIKASI FAKTA

**Nama dan Isi Rancangan Undang-Undang**: Klaim ini benar bahwa Koalisi memperkenalkan undang-undang yang secara resmi disebut Social Media (Anti-Trolling) Bill 2022, meskipun awalnya dirilis sebagai draf paparan pada Desember 2021 [1][2].
**Bill Name and Content**: The claim is correct that the Coalition introduced legislation officially called the Social Media (Anti-Trolling) Bill 2022, though it was initially released as an exposure draft in December 2021 [1][2].
Klaim ini secara akurat menggambarkan fokus rancangan undang-undang: para ahli memastikan undang-undang ini "tidak benar-benar berkaitan dengan 'trolling'" dan sebaliknya "tetap sebagian besar tidak berubah dari versi draf paparan" dengan fokus utamanya pada fitnah daripada mengatasi pelecehan daring [2][4]. **Tidak Menangani Trolling Secara Langsung**: Beberapa sumber ahli memastikan klaim ini.
The claim accurately characterizes the bill's focus: experts confirm the legislation "is not really concerned with 'trolling'" and instead "remains largely unchanged from the exposure draft version" with its primary focus on defamation rather than addressing online abuse [2][4]. **Does Not Address Trolling Directly**: Multiple expert sources confirm this claim.
Analisis ZDNet secara eksplisit menyatakan: "Meskipun disebut sebagai Rancangan Undang-Undang anti-troll, undang-undang yang diusulkan tidak mengandung bagian apa pun yang menangani konten troll atau berbahaya" [2].
The ZDNet analysis explicitly states: "Despite being called an anti-troll Bill, the proposed laws do not contain any sections addressing troll or harmful content" [2].
David Rolph (ahli fitnah dari University of Sydney) dan Law Council sama-sama menyampaikan bahwa "judul rancangan undang-undang adalah 'nama yang salah' karena 'tidak benar-benar berkaitan dengan 'trolling'" [3].
David Rolph (University of Sydney defamation expert) and the Law Council both submitted that "the bill's title was a 'misnomer' because it is 'not really concerned with 'trolling'" [3].
Komisioner eSafety Australia Julie Inman Grant mengemukakan kekhawatiran serupa tentang kesalahan pelabelan rancangan undang-undang ini [2]. **Moderator Halaman Media Sosial**: Klaim ini secara akurat mencerminkan dampak rancangan undang-undang terhadap administrator halaman.
Australia's eSafety Commissioner Julie Inman Grant expressed similar concerns about the bill's mislabeling [2]. **Social Media Page Moderators**: The claim accurately reflects the bill's impact on page administrators.
Undang-undang ini "menganggap organisasi apa pun, terlepas dari ukurannya, tidak bertanggung jawab atas komentar pihak ketiga di halaman media sosial mereka" [5].
The legislation "deems any organisation, irrespective of their size, as not liable for third-party comments on their social media pages" [5].
Menurut analisis ahli dari Rolph, pemilik halaman tidak akan bertanggung jawab "bahkan jika mereka benar-benar mengetahui adanya komentar fitnah pihak ketiga dan memiliki kekuasaan untuk menghapus komentar tersebut—sehingga meringankan mereka dari kebutuhan untuk memoderasi komentar" [3]. **Proses Identifikasi Pengguna Anonim**: Klaim ini dengan benar menggambarkan mekanismenya.
According to Rolph's expert analysis, page owners will not be liable "even if they have actual notice of the defamatory third party comment and have the power to remove the comment – thus alleviating them of a need to moderate comments" [3]. **Anonymous User Identification Process**: The claim correctly describes the mechanism.
Rancangan undang-undang mengharuskan perusahaan media sosial untuk menetapkan prosedur pengaduan di mana mereka memberi tahu komentator dalam waktu 72 jam, tetapi "perusahaan media sosial dapat menghapus komentar dan mengidentifikasi komentator, hanya jika mereka memberikan persetujuan" [5].
The bill requires social media companies to establish complaints procedures where they notify the commenter within 72 hours, but "social media companies can remove the comment and identify the commenter, but only if they provide their consent" [5].
Pengguna anonim memang dapat menolak pengungkapan identitas mereka. **Hambatan Biaya**: Referensi klaim tentang biaya $20.000 memiliki dasar yang kuat.
Anonymous users are indeed able to refuse disclosure of their identity. **Cost Barrier**: The claim's reference to the $20,000 cost is well-founded.
Electronic Frontiers Australia (EFA) menyampaikan bahwa "mengajukan gugatan fitnah di Australia berbiaya antara AU$20.000 hingga AU$80.000, yang menurutnya terlalu mahal bagi sebagian besar warga Australia dan hanya menjadi pilihan bagi 'segelintir orang istimewa'" [6].
Electronic Frontiers Australia (EFA) submitted that "bringing a defamation lawsuit in Australia costs between AU$20,000 to AU$80,000, which it said is prohibitively expensive for most Australians and only an option for a 'privileged few'" [6].
Ini membuat akses terhadap solusi rancangan undang-undang ini bergantung pada sumber daya finansial. **Perundungan Siber dan Kerugian di Kalangan Pelajar**: Klaim ini dengan benar mengidentifikasi bahwa rancangan undang-undang ini tidak mengatasi perundungan siber.
This makes access to the bill's remedies dependent on financial resources. **Cyberbullying and School-Age Harm**: The claim correctly identifies that the bill does not address cyberbullying.
Michael Douglas (ahli fitnah) menyampaikan: "Ini tidak akan melakukan apa pun untuk melindungi anak-anak dengan lebih baik di dunia maya" [3].
Michael Douglas (defamation expert) submitted: "It will do nothing to better protect children online" [3].
Kekhawatiran Komisioner eSafety secara spesifik menyebutkan bagaimana rancangan undang-undang ini dapat "disalahgunakan" dan "cenderung menimbulkan banyak pembalasan, banyak keadilan gaya balas dendam" daripada mencegah perundungan siber [2]. **Klaim Perjanjian Perdagangan Bebas**: Meta secara resmi memperingatkan bahwa persyaratan rancangan undang-undang ini untuk "entitas Australia yang ditunjuk" dapat bertentangan dengan Perjanjian Perdagangan Bebas (FTA) Australia.
The eSafety Commissioner's concerns specifically referenced how the bill may be "misused" and "lend itself to a lot of retaliation, a lot of vigilante-style justice" rather than preventing cyberbullying [2]. **Free Trade Agreement Claims**: Meta formally warned that the bill's requirement for "nominated Australian entities" may conflict with Australia's FTAs.
Meta menyatakan persyaratan tersebut "tidak konsisten dengan semangat persyaratan perjanjian perdagangan bebas AS" dan bahwa "tidak konsisten dengan semangat kewajiban Australia di sejumlah perjanjian perdagangan yang sudah ada" dengan Chili, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Peru, Singapura, Korea Selatan, Amerika Serikat, dan CPTPP [7].
Meta stated the requirement is "not consistent with the spirit of the requirement of the US free trade agreement" and that it is "inconsistent with the spirit of Australia's obligations across a number of existing trade agreements" with Chile, Hong Kong, Indonesia, Japan, Peru, Singapore, South Korea, the United States, and the CPTPP [7].
Namun, Departemen Jaksa Agung membantah bahwa FTA Australia "mengandung pengecualian untuk jenis aturan ini" dan bahwa kepatuhan tidak merupakan "diskriminasi yang sewenang-wenang atau tidak dapat dibenarkan" [7]. **Andrew Laming dan Akun Anonim**: Investigasi The Guardian pada April 2021 mendokumentasikan bahwa Anggota Parlemen Liberal Andrew Laming "mengoperasikan lebih dari 30 halaman dan profil Facebook di bawah kedok kelompok masyarakat" untuk mempromosikan materi politik dan menyerang lawan Partai Buruh [8].
However, the Attorney-General's Department countered that Australia's FTAs "contain exceptions to this type of rule" and that compliance does not constitute "arbitrary or unjustifiable discrimination" [7]. **Andrew Laming and Anonymous Accounts**: The Guardian's April 2021 investigation documented that Liberal MP Andrew Laming "operates more than 30 Facebook pages and profiles under the guise of community groups" to promote political material and attack Labor opponents [8].
Halaman-halaman tersebut mencakup situs seperti "Redland Bay Bulletin" (menyamar sebagai situs berita) dan "Redlands Institute" (mengklaim sebagai edukatif), dan keduanya tidak mencantumkan pengungkapan otorisasi politik seperti yang diwajibkan oleh hukum [8].
The pages included sites like "Redland Bay Bulletin" (masquerading as a news site) and "Redlands Institute" (claiming to be educational), and neither included political authorization disclosures as required by law [8].
Ini secara langsung mendukung klaim tentang anggota pemerintah yang menggunakan akun daring anonim untuk memfitnah lawan politik.
This directly supports the claim about government members using anonymous online accounts to defame political opponents.

Konteks yang Hilang

Namun, klaim ini menghilangkan konteks penting tentang rasionalisasi rancangan undang-undang dan beberapa keterbatasan dari kritik tersebut: **Latar Belakang Kasus Voller**: Rancangan undang-undang ini diperkenalkan secara spesifik untuk mengatasi keputusan Mahkamah Agung dalam kasus Dylan Voller, yang memutuskan bahwa perusahaan media dapat bertanggung jawab sebagai penerbit komentar fitnah di postingan media sosial mereka [3][5].
However, the claim omits important context about the bill's rationale and some limitations of the criticism: **The Voller Case Background**: The bill was introduced specifically to address the High Court's decision in Dylan Voller's case, which ruled that media companies could be liable as publishers of defamatory comments on their social media posts [3][5].
Niat yang dinyatakan oleh pemerintah adalah untuk melindungi bisnis biasa dan administrator halaman komunitas dari tanggung jawab fitnah yang tidak terduga [5]. **Penerima Manfaat yang Dimaksud Sangat Beragam**: Meskipun klaim ini berfokus pada kritik, rancangan undang-undang ini dirancang untuk membantu tidak hanya perusahaan media tetapi juga bisnis kecil dan organisasi komunitas (seperti contoh pemilik kafe yang sibuk yang dikutip oleh pemerintah) dari tanggung jawab fitnah yang tidak terduga [5].
The government's stated intent was to protect ordinary businesses and community page administrators from liability for comments they cannot control or quickly moderate [5]. **Intended Beneficiaries Were Diverse**: While the claim focuses on criticism, the bill was designed to help not just media companies but also small businesses and community organizations (like the busy cafe owner example cited by the government) from unexpected defamation liability [5].
Pergeseran tanggung jawab ke platform media sosial dimaksudkan untuk mendorong mereka menetapkan prosedur pengaduan [3]. **Standar Hukum yang Bersaing**: Klaim ini menyebutkan ambang "kerugian serius" yang diperkenalkan dalam reformasi hukum fitnah, tetapi tidak mencatat bahwa ini menciptakan hambatan tambahan yang independen dari rancangan undang-undang anti-trolling—pengadilan sekarang memerlukan bukti "kerugian serius" sebelum gugatan fitnah dapat dilanjutkan, yang menurut Rolph membuat perolehan perintah pengungkapan "tidak semudah itu" [5]. **Pembelaan Penyebaran Tidak Bersalah**: Klaim ini tidak menyebutkan bahwa perusahaan media sosial kehilangan pembelaan "penyebaran tidak bersalah" berdasarkan rancangan undang-undang ini, dan sebaliknya mengharuskan mereka untuk memiliki prosedur pengaduan untuk menghindari tanggung jawab—ini adalah pergeseran yang signifikan dalam tanggung jawab platform [7]. **Kekhawatiran Keamanan yang Sah Tidak Disebutkan**: Meskipun klaim ini mengutip kekhawatiran tentang keselamatan komunitas rentan dalam tetap anonim, klaim ini tidak mengakui bahwa kekhawatiran ini diajukan oleh organisasi libertas sipil untuk menentang aspek-aspek tertentu dari rancangan undang-undang—EFA mencatat rancangan undang-undang ini dapat membahayakan mereka "yang takut identitasnya terungkap" oleh pihak berkuasa yang berusaha membongkar para kritikus [6].
The liability shift to social media platforms was intended to incentivize them to establish complaints procedures [3]. **Competing Legal Standards**: The claim mentions the "serious harm" threshold introduced in defamation law reforms, but doesn't note that this created additional barriers independent of the anti-trolling bill—courts now require proof of "serious harm" before defamation claims can proceed, which Rolph noted makes obtaining disclosure orders "not as easy" [5]. **The Innocent Dissemination Defence**: The claim does not mention that social media companies lost the "innocent dissemination" defense under this bill, instead requiring them to have a complaints procedure to avoid liability—this was a significant shift in platform responsibility [7]. **Legitimate Safety Concerns Not Mentioned**: While the claim cites concerns about vulnerable communities' safety in remaining anonymous, it doesn't acknowledge that this concern was raised by civil liberties organizations to oppose certain aspects of the bill—EFA noted the bill could endanger those "who fear discovering their identity" by powerful actors seeking to unmask critics [6].

Penilaian Kredibilitas Sumber

Sumber asli yang diberikan sebagian besar dapat dipercaya: - **The Guardian**: Media arus utama dengan proses pemeriksaan fakta yang mapan; artikel Laming adalah eksklusif investigatif [8] - **Parlemen Australia**: Sumber resmi pemerintah untuk teks rancangan undang-undang dan materi legislatif [1] - **ZDNet**: Publikasi industri teknologi dengan liputan reguler kebijakan teknologi Australia; artikel mengutip pengajuan ahli [2][4][7] - **Urban Dictionary**: Bukan sumber yang dapat diandalkan untuk analisis kebijakan, hanya berguna untuk konteks definisi [kutipan hanya sebagai referensi] Sumber-sumber tersebut secara kolektif mengambil dari pengajuan ahli dari Law Council of Australia, akademisi hukum fitnah (David Rolph, Michael Douglas), Electronic Frontiers Australia, Komisioner eSafety Australia, dan pengajian parlemen resmi dari Meta.
The original sources provided are largely credible: - **The Guardian**: Mainstream media outlet with established fact-checking processes; the Laming article was an investigative exclusive [8] - **Parliament of Australia**: Official government source for the bill text and legislative materials [1] - **ZDNet**: Technology industry publication with regular coverage of Australian tech policy; articles cited expert submissions [2][4][7] - **Urban Dictionary**: Not a reliable source for policy analysis, only useful for definition context [citation as reference only] The sources collectively draw on expert submissions from the Law Council of Australia, defamation law academics (David Rolph, Michael Douglas), Electronic Frontiers Australia, Australia's eSafety Commissioner, and Meta's formal parliamentary submissions.
Ini adalah sumber-sumber yang berwenang untuk menilai manfaat dan dampak rancangan undang-undang ini.
These are authoritative sources for assessing the bill's merits and impacts.
⚖️

Perbandingan Labor

**Apakah Partai Buruh mengusulkan undang-undang serupa atau pendekatan serupa?** Pencarian yang dilakukan: Tidak ditemukan preseden langsung untuk Partai Buruh mengusulkan undang-undang serupa anti-fitnah/anti-trolling selama periode 2013-2022 Koalisi.
**Did Labor propose similar legislation or approaches?** Search conducted: No direct precedent found for Labor proposing similar anti-defamation/anti-trolling legislation during the Coalition's 2013-2022 period.
Namun, pemerintahan Partai Buruh memiliki pendekatan yang berbeda: - Pendekatan Partai Buruh terhadap kerugian daring secara historis menekankan kekuasaan Komisioner eSafety (yang dibuat oleh pemerintahan Partai Buruh pada 2015 melalui Online Safety Act) yang berfokus pada penghapusan konten berbahaya daripada jalur litigasi fitnah [hasil pencarian] - Kasus Voller yang memicu rancangan undang-undang Koalisi terjadi pada 2021, di bawah pemerintahan Koalisi; Partai Buruh belum menghadapi preseden hukum spesifik ini selama masa pemerintahan mereka - Penekanan Partai Buruh adalah pada penegakan regulasi (Komisioner eSafety) daripada jalur litigasi sipil untuk fitnah - Tidak ada bukti Partai Buruh menggunakan akun anonim untuk fitnah politik di tingkat federal; kasus Laming (Anggota Parlemen Liberal) adalah insiden spesifik yang tidak dikaitkan dengan praktik sistematis Partai Buruh **Konteks perbandingan**: Kasus Voller menciptakan masalah hukum yang sah yang memerlukan respons pemerintah—masalahnya bukan apakah akan mengatasinya, tetapi bagaimana.
However, Labor governments had different approaches: - Labor's approach to online harms has historically emphasized the eSafety Commissioner's powers (which Labor government created in 2015 through the Online Safety Act) focusing on harmful content removal rather than defamation litigation pathways [search findings] - The Voller case that prompted the Coalition's bill occurred in 2021, under Coalition government; Labor had not faced this specific legal precedent during their governance period - Labor's emphasis has been on regulatory enforcement (eSafety Commissioner) rather than civil litigation pathways for defamation - No evidence of Labor using anonymous accounts for political defamation at the federal level; the Laming case (Liberal MP) is a specific incident not attributed to systemic Labor practice **Comparison context**: The Voller case created a genuine legal problem that required government response—the issue is not whether to address it, but how.
Pendekatan yang kemungkinan besar akan diambil Partai Buruh adalah regulatif (kekuasaan eSafety) daripada berfokus pada litigasi sipil, tetapi ini adalah preferensi komparatif daripada Partai Buruh mengambil sikap menentang tanggung jawab fitnah.
Labor's likely approach would have been regulatory (eSafety powers) rather than civil litigation focused, but this is comparative preference rather than Labor having taken an opposing stance on defamation liability.
🌐

Perspektif Seimbang

**Meskipun para kritikus berpendapat bahwa rancangan undang-undang ini salah nama dan tidak mengatasi trolling**, pemerintah menyatakan rancangan undang-undang ini dirancang untuk mengatasi masalah hukum spesifik yang diciptakan oleh kasus Voller—bahwa administrator halaman biasa dapat menghadapi tanggung jawab fitnah yang tidak terduga untuk komentar yang tidak mereka tulis [3][5].
**While critics argue the bill is misnamed and doesn't address trolling**, the government stated the bill was designed to address a specific legal problem created by the Voller case—that ordinary page administrators could face unexpected defamation liability for comments they didn't write [3][5].
Ini adalah tantangan kebijakan yang sah. **Kritik yang diajukan oleh klaim ini secara substansial didukung oleh analisis ahli:** Law Council, ahli fitnah, Komisioner eSafety, Electronic Frontiers Australia, dan platform teknologi semuanya mengemukakan kekhawatiran bahwa rancangan undang-undang ini tidak mencapai tujuannya yang dinyatakan untuk mengurangi pelecehan daring dan sebaliknya terutama memberikan manfaat bagi mereka yang memiliki sumber daya untuk mengejar litigasi fitnah [3][6].
This is a legitimate policy challenge. **The claim's criticisms are substantially supported by expert analysis:** The Law Council, defamation experts, eSafety Commissioner, Electronic Frontiers Australia, and tech platforms all raised concerns that the bill does not achieve its stated goal of reducing online abuse and instead primarily benefits those with resources to pursue defamation litigation [3][6].
Rancangan undang-undang ini memang "meringankan" administrator halaman dan perusahaan media dari kewajiban moderasi—ini adalah desain yang disengaja, meskipun para kritikus berpendapat hal ini akan memperburuk pelecehan daring. **Tentang klaim FTA**: Kekhawatiran Meta tentang pelanggaran FTA didokumentasikan dan dinyatakan secara resmi, tetapi Departemen Jaksa Agung membantah interpretasi ini, mengutip pengecualian dalam FTA Australia dan menyatakan bahwa persyaratan tersebut tidak merupakan "diskriminasi yang sewenang-wenang atau tidak dapat dibenarkan" [7].
The bill does "alleviate" page administrators and media companies from moderation obligations—this is its intentional design, though critics argue it will worsen online abuse. **On the FTA claims**: Meta's concern about FTA violations is documented and formally stated, but the Attorney-General's Department contested this interpretation, citing exceptions in Australia's FTAs and stating that the requirements do not constitute "arbitrary or unjustifiable discrimination" [7].
Ini tetap menjadi perselisihan hukum yang sah antara platform dan pemerintah, bukan masalah yang sudah diselesaikan. **Tentang klaim Andrew Laming**: Investigasi The Guardian secara definitif menetapkan bahwa Anggota Parlemen Koalisi mengoperasikan beberapa halaman Facebook anonim untuk mempromosikan kepentingan partai dan menyerang lawan politik [8].
This remains a genuine legal dispute between the platform and government, not a settled matter. **On the Andrew Laming claim**: The Guardian's investigation definitively established that a Coalition MP operated multiple anonymous Facebook pages to promote party interests and attack political opponents [8].
Ini secara langsung bertentangan dengan otoritas moral apa pun yang mungkin diklaim pemerintah mengenai menindak akun daring anonim—backbench pemerintah sendiri terlibat dalam perilaku yang dicoba dicegah oleh rancangan undang-undang ini. **Konteks kunci**: Ini TIDAK unik untuk Koalisi—pelecehan daring dan akun politik anonim digunakan di seluruh spektrum politik.
This directly contradicts any moral authority the government might claim regarding cracking down on anonymous online defamation—the government's own backbench was engaging in the behavior the bill purports to prevent. **Key context**: This is NOT unique to the Coalition—online abuse and anonymous political accounts are used across the political spectrum.
Namun, kasus spesifik yang didokumentasikan tentang Laming yang menggunakan 30+ halaman anonim sementara pemerintah mengadvokasi pengungkapan pengguna anonim menciptakan masalah kredibilitas yang signifikan untuk pembingkaan moral kebijakan ini.
However, the specific documented case of Laming using 30+ anonymous pages while the government advocated for unmasking anonymous users creates a significant credibility problem for the policy's moral framing.

SEBAGIAN BENAR

7.0

/ 10

Klaim inti tentang substansi rancangan undang-undang secara faktual akurat: rancangan ini tidak mengatasi trolling, memang menghapus kewajiban moderasi dari administrator halaman, terutama memberikan manfaat bagi mereka yang memiliki sumber daya untuk mengejar litigasi fitnah yang mahal (~$20-80 ribu), memungkinkan pengguna anonim untuk menolak pengungkapan, dan memang mengandalkan hukum fitnah daripada mengatasi perundungan siber.
The core claims about the bill's substance are factually accurate: it doesn't address trolling, it does remove moderation obligations from page administrators, it primarily benefits those with resources to pursue expensive defamation litigation (~$20-80k), it allows anonymous users to refuse disclosure, and it does rely on defamation law rather than addressing cyberbullying.
Klaim tentang kekhawatiran FTA akurat mengenai posisi Meta, meskipun pemerintah membantahnya.
The claim about the FTA concerns is accurate regarding Meta's position, though the government contests it.
Klaim Laming tentang anggota pemerintah yang menggunakan akun anonim didokumentasikan dengan baik.
The Laming claim about government members using anonymous accounts is well-documented.
Namun, klaim ini menghilangkan rasionalisasi kebijakan yang sah (masalah tanggung jawab kasus Voller), menyederhanakan pertukaran kebijakan yang bersaing, dan dapat lebih tepat mengenai perselisihan FTA yang sedang diperebutkan daripada sudah diselesaikan.
However, the claim omits the legitimate policy rationale (the Voller case liability problem), oversimplifies the competing policy tradeoffs, and could be more precise about the FTA dispute being contested rather than settled.

📚 SUMBER DAN KUTIPAN (7)

  1. 1
    aph.gov.au

    aph.gov.au

    Helpful information Text of bill First reading: Text of the bill as introduced into the Parliament Third reading: Prepared if the bill is amended by the house in which it was introduced. This version of the bill is then considered by the second house. As passed by

    Aph Gov
  2. 2
    zdnet.com

    zdnet.com

    The anti-trolling Bill is focused on defamation rather than reducing troll and harmful content.

    ZDNET
  3. 3
    theguardian.com

    theguardian.com

    Law Council and defamation experts warn government’s bill offers little protection and could deprive victims of redress

    the Guardian
  4. 4
    theguardian.com

    theguardian.com

    The proposed bill frees media companies from responsibility but could also help the operators of community Facebook pages

    the Guardian
  5. 5
    zdnet.com

    zdnet.com

    The EFA has labelled the federal government's anti-trolling Bill as a cynical attempt to use community concerns about online abuse to improve the circumstances of a privileged few.

    ZDNET
  6. 6
    zdnet.com

    zdnet.com

    Australia's proposed anti-defamation laws seek to require social media platforms to establish nominated Australian entities that can access user data for users who post potential defamatory material, which Meta warns is inconsistent with the country's agreements with its largest trading partners.

    ZDNET
  7. 7
    theguardian.com

    theguardian.com

    Exclusive: federal member for Bowman operates more than 30 pages and profiles under the guise of community groups, which he uses to promote political material

    the Guardian

Metodologi Skala Penilaian

1-3: SALAH

Secara faktual salah atau fabrikasi jahat.

4-6: SEBAGIAN

Ada kebenaran tetapi konteks hilang atau menyimpang.

7-9: SEBAGIAN BESAR BENAR

Masalah teknis kecil atau masalah redaksi.

10: AKURAT

Terverifikasi sempurna dan adil secara kontekstual.

Metodologi: Penilaian ditentukan melalui referensi silang catatan pemerintah resmi, organisasi pemeriksa fakta independen, dan dokumen sumber primer.